RULES IN THIS BLOG!

•Maret 23, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ada beberapa rules yang harus reader penuhi di blog ini hehehehe:

1. Dont be A SILENT READER!

Please close this blog if you dunno want to give a commend! Author really need your commend 🙂

2. Dont bashing every fanfiction or the couple in this blog! Please appreciate the work of author~

3. If you want NC’s password, just send an email, send an inbox in facebook or send a DM in twitter! I”ll give you the password 🙂

Kayanya itu aja deh yaa hehehe. Author bikin rules kaya gitu karena blog ini sepi banget 😦 jadi mohon banget ya reader~

Destiny (Part 2)

•Januari 27, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Author: narachikim

Genre: Chapter, Romance, Friendship.

Cast: Kim Hyori, Lee Sungyeol, Kim Myungsoo (L), Jung Myungji

This ff just got a new cast hehehe

TARAAAA!!!

THE NEW CAST IS T-ARA’S JIYEON! \(´▽`)/

• Hyori’s bestfriend

• Lovely person

• Easy-going

• Satu universitas dan jurusan yang sama dengan Hyori

Part : Prolog | Part 1

AUTHOR POV

“Senang bisa berkenalan Myungji-ssi” ujar Sungyeol ramah sembari tersenyum.

Myungji terpana melihat senyuman Sungyeol yang manis itu. Wajah Myungji pun bersemu menjadi merah merona.

“Perkenalkan ini sahabatku Kim Myungsoo” lanjut Sungyeol memperkenalkan Myungsoo kepada Myungji. Myungji pun terkejut karena ia baru menyadari bahwa ia telah melamun.

Myungsoo tersenyum ramah namun tatapan Myungsoo terlihat begitu dingin dan sulit untuk diartikan. Myungji membalas senyuman Myungsoo dengan canggung.

Lalu Myungji berjalan namun sialnya kaki-nya terpeleset karena high heelsnya terlalu tinggi. Myungji akan terjatuh, namun Sungyeol sangat sigap hingga ia menangkap tubuh Myungji dan Eia pun terjatuh dalam pelukan Sungyeol.

Seketika wajah Myungji kembali merona karena malu.

“Paboya! Paboya! Paboya! Jeongmal paboya, Jung Myungji!! Dimana mau kau letakkan wajahmu?!?” maki Myungji dalam hati.

Sungyeol terlihat khawatir “Myungji-ssi gwenchana?”.

Myungji hanya mengangguk dengan canggung lalu melepas pelukannya. Keseimbangan tubuh Myungji masih belum stabil hingga ia hampir terjatuh lagi. Tapi Sungyeol memegang tangan Myungji hingga yeoja di depannya itu tetap berdiri tegak. Sungyeol melihat wajah merah merona Myungji.

“Apakah dia malu?” batin Sungyeol dalam hati.

“Gamsahamnida, Sungyeol-ssi. Jeongmal gamsahamnida~” ujar Myungji sambil membungkukkan badannya. Sungyeol membalas membungkukkan badannya.

Myungji semakin jatuh hati pada Sungyeol.

“Lain kali hati-hati ya Myungji-ssi. Besok pakai saja sneaker. Bagaimanapun gayamu, kau pasti terlihat cantik” tutur Sungyeol sambil tersenyum.

Wajah Myungji semakin merona mendengar kata-kata Sungyeol. Barusan.. Sungyeol bilang dia ‘cantik’?

“Ya Tuhan, terimakasih hari ini begitu indah” batin Myungji dalam hati.

“Kami pulang dulu ya. Sampai jumpa lain kali Myungji-ssi” pamit Sungyeol. Myungji melambaikan tangannya pada Sungyeol.

~~~~~~~~~

Hyori sendirian di kamarnya sedang membaca kamus bahasa Prancis.

“Rumah sepi sekali kalau tak ada Myungsoo” gumam Hyori.

Hyori pun mengecek handphone-nya. Tidak ada satupun pesan dari Myungsoo. Pasti Myungsoo sedang menonton konser. Hyori menandai kamusnya lalu menutup kamusnya.

Ia berjalan menuju jendela lalu membukanya. Angin langsung masuk ke dalam kamar. Di luar salju juga sedang turun. Hyori pun menutup jendela dan kembali duduk diatas tempat tidurnya. Hyori tidak tau harus melakukan apa. Biasanya kalau begini pasti ia akan berkunjung ke kamar Myungsoo.

Namun sayang sekali Myungsoo sedang tidak berada dirumah. Helaan nafas pun terdengar. Hyori mengambil laptop apple-nya lalu menghidupkannya. Setelah hidup, yeoja bermarga Kim tersebut mencari lagu Can U Smile milik Infinite. Lalu diputarnya lagu tersebut. Hyori semakin teringat Myungsoo. Apa dia merindukan sepupunya itu? Sepertinya iya.

Setelah beberapa lama sibuk dengan pikirannya. Hyori pun mematikan laptop apple-nya lalu beranjak meninggalkan kamar. Kaki Hyori berjalan menuju sebuah kamar yang sudah sering ia masuki.

Ya. Kamar Myungsoo.

Hyori pun masuk ke dalam kamar sepupunya tersebut.

“Kamar Myungsoo berantakan sekali” gumam Hyori.

Lalu ia membereskan baju-baju Myungsoo yang berserakan diatas tempat tidurnya. Setelah selesai, Hyori beralih menuju meja belajar Myungsoo. Kertas-kertas  lirik lagu berserakan disana. Hyori pun membereskannya. Setelah selesai kamar Myungsoo terlihat sangat rapi, Hyori tersenyum puas.

Mata Hyori tiba-tiba tertuju pada gitar Myungsoo. Entah apa daya tarik gitar tersebut, namun Hyori mengambil gitar tersebut lalu ia membawanya. Hyori duduk di karpet disamping tempat tidur Myungsoo. Hyori mencoba memainkan jari-nya diatas senar gitar.

Ahh ia tidak bisa. Bunyi yang tidak jelas terdengar begitu buruk.

“Untung saja Myungsoo sedang tidak ada. Kalau tidak pasti dia sudah mengolok-olokku” gumam Hyori sambil mencibir.

Ia tidak berbakat memainkan gitar. “Bakatku kan melukis” ujar Hyori bangga. Kemudian Hyori melihat jam yang terletak di meja di samping tempat tidur.

Sudah jam 22.00~

“Myungsoo! Kenapa kau belum pulang hah?!” gerutu Hyori kesal.

~~~~~~~~~~

“Kau tahu? Kurasa yeoja tadi menyukaimu” terka Myungsoo ketika mereka sedang diperjalanan pulang.

“Aniya~ Darimana kau bisa tau? Kau selalu saja menerka-nerka tanpa tau bukti” balas Sungyeol sambil mencibir.

“Tentu saja aku tau. Kau mana pernah tau soal itu. Kau kan tidak peka! Paboya~ Bisakah kau untuk sedikit peka terhadap perasaan orang lain, Lee Sungyeol?” ujar Myungsoo meledek.

Sungyeol kembali mencibir. Lalu mereka pun tertawa.

“Eh sudah sampai rumahmu. Besok kita pergi lagi! Oke?” ujar Myungsoo.

Sungyeol mengangguk lalu meninju pelan bahu Myungsoo sebagai salam perpisahan.

Sungyeol pun turun dari mobil Mercedes silver milik Myungsoo.

“Saatnya pulang, Myungsoo” gumam Myungsoo pada dirinya sendiri.

~~~~~~~~~


Mobil sudah ku matikan. Aku pun keluar dari mobil. Ku lirik jam tanganku. Sudah jam 22.30~

“Pasti anak itu sudah tidur” batin Myungsoo.

Sesampai di kamarnya, Myungsoo terkejut karena kamarnya sudah tertata begitu rapi.

“Siapa yang membersihkan?” gumam Myungsoo heran. Rasanya jarang sekali ada yang masuk ke dalam kamarnya. Kecuali ‘dia’.

Tiba-tiba mata Myungsoo mendapati sepupu perempuannya tengah tertidur di karpet dan tubuhnya menyandar di tempat tidur. Hyori tertidur sambil memeluk gitar Myungsoo.

Myungsoo tersenyum melihat Hyori yang sedang tertidur.

“Neomu yeppeo” gumam Myungsoo sambil mengelus rambut Hyori dengan lembut.

Namun, Myungsoo teringat sesuatu. Wajah Myungsoo seketika berubah muram. Ia selalu benci ketika ia mengingat bahwa kenyataannya ia adalah sepupu seorang Kim Hyori. “

“Apa salah mencintai sepupumu sendiri? Ya, aku tau itu salah. Sangat salah. Itu beban yang sangat berat untukku” gumam Myungsoo pelan. Myungsoo mengucapkannya dengan suara bergetar.

“Aku tau aku benar-benar cengeng. Aku benci diriku sendiri” gumam Myungsoo lagi.

Myungsoo menatap sepupunya itu dengan lirih. Lalu ia melepas pelukan Hyori dari gitarnya kemudian mengambil gitar tersebut.

“Aku benci ketika aku menyadari bahwa aku tak bisa mencintaimu seperti yang aku mau”

~~~~~~~~~~

HYORI POV

Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa sikap Myungsoo berubah dingin padaku. Apa aku telah melakukan sesuatu yang salah? Ku rasa tidak ada. Lalu? Kenapa dia tiba-tiba berubah?

Aku sangat benci melihat sikap dinginnya. Apalagi ketika dia melihatku dengan tatapan tajamnya yang menusuk dan begitu dingin. Dia terlihat begitu murka. Apa aku harus bertanya? Ah sepertinya jangan. Dia akan lebih terlihat menyeramkan.

Ada baiknya aku diam saja dulu. Pasti dia akan baik sendiri.

~~~~~~~~~

Aku salah!

Sudah seminggu dan dia tetap bersikap dingin padaku. Rekor terlama aku bertengkar dengannya hanya sehari. Dan sekarang? Ini sudah seminggu! Ku pikir ini sudah keterlaluan! Marah tanpa sebab? Memangnya aku salah apa?

Aku merobek gambar sketsaku untuk yang kesekian kalinya dengan kesal karena aku baru sadar aku tidak menggambar dengan baik. Pikirannya begitu kacau untuk melukis sekarang.

“What happen with you, Kim Myungsoo?! Why you change like this huh?!” teriak Hyori lalu melembar buku sketsanya ke dinding kamar.

Drrrtt.. Drrrtt..

Perhatianku kini tertuju pada handphoneku. Ada pesan sepertinya.

From: Jiyeon

Hyori-ah~ Ku rasa kau sedang ada masalah. Mau bercerita padaku? Ku tunggu kau di starbucks biasa. Arra? ^^

Aku tertegun lalu tersenyum. Beruntung sekali aku memiliki sahabat seperti Jiyeon. Dia selalu tau ketika aku sedang ada masalah. Dia selalu ada untukku. Jiyeon is a good friend!

Aku pun mulai mengetik balasan untuk Jiyeon.

To: Jiyeon

Arra! ^^ Aku akan kesana secepatnya! Kau benar-benar pintar, Jiyeon-ah! Kkkk

Setelah membalas pesan dari Jiyeon, aku langsung beranjak mengganti pakaianku lalu pergi menuju kafe starbucks tempat biasa aku dan Jiyeon berkunjung.

~~~~~~~~~~

“Menurutmu bagaimana? Memangnya aku salah apa? Tiba-tiba saja dia berubah dingin padaku. Aneh, bukan?” tanyaku lalu meminum coffe latte milikku.

Kening Jiyeon berkerut setelah mendengar ceritaku. Mungkin baru kali ini ia mendengarku dan Myungsoo berada dalam keadaan seperti ini.

Marah tanpa alasan? Bukankah itu terdengar egois?

“Terakhir kali kapan kau berbincang dengannya? Kau yakin kau tidak ada mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaannya?” tanya Jiyeon serius. Aku anggukkan kepalaku dengan mantap.

“Aniya! Terakhir aku berbincang dengannya saat ia mengantarku ke kampus! Dan ku rasa aku tidak ada mengucapkan kata-kata yang yang menyinggung perasaannya” jawabku kesal.

“Ku rasa ada baiknya jika kau menanyakan langsung pada Myungsoo. Tentu saja kau tidak mau keadaan seperti ini berlanjut terus-menerus kan?” saran Jiyeon dengan bijak.

Aku hanya mengangguk dengan lesu. Apa aku berani untuk menanyakannya? Baru bertemu dengannya saja aku sudah mendapatkan tatapan tajam seperti itu. Ah.. sepertinya saran Jiyeon ada benarnya juga.

Arraseo~ Akan ku tanya namja itu sesampai di rumah nanti!

~~~~~~~~~

SUNGYEOL POV

Ada yang aneh dengan namja di depanku ini. Ia terlihat begitu bingung, bimbang, dan tak tau arah. Apa dia sedang ada masalah? Baru kali ini aku melihatnya seperti ini.

Myungsoo kelihatan menyedihkan. Raut wajahnya sangat menampakkan suasana hatinya. Ada apa dengan anak ini?

“Eottheokhae?” gumam Myungsoo pelan. Suaranya terdengar sangat lesu. Kelihatannya ia memang sedang ada masalah.

“Mworago?” tanyaku kemudian. Aku benar-benar penasaran dengan Myungsoo.

“Haruskah aku bercerita pada orang yang tidak peka sepertimu, Sungyeolㅡ” Myungsoo langsung terdiam dan ia kelihatan semakin bingung.

“Ah.. mianhae.. Suasana hatiku sedang buruk sekali” jawab Myungsoo kemudian. Ia menatapku dengan lesu.

“Gwenchana. Kalaupun kau tidak mau bercerita padaku juga tidak apa-apa. Tapi aku tau kau sedang ada masalah” ujarku tenang. Lalu aku mengambil sebatang coklat dari saku sweaterku lalu ku ulurkan kepada Myungsoo. Anak itu menatapku dengan heran.

“Ambillah~ Coklat dan es krim bisa membuat perasaanmu lebih baik. Namun, aku hanya punya coklat. Lain kali saja aku belikan kau es krim kkkkk” ujarku dengan ceria.

Kemudian sebuah senyuman pun muncul dari wajah Myungsoo. Walaupun aku tau itu senyuman yang dipaksakan. Mungkin berat bagi Myungsoo untuk memberikan sebuah senyuman di saat ia sedang terpuruk. Tentu saja.

Aku tau aku bukan orang yang peka terhadap perasaan orang lain. Tapi aku selalu mencoba untuk mengerti. Aku benci disaat aku tak bisa mengartikan suatu perasaan yang orang lain berikan padaku. Ah.. paboya.

MYUNGSOO POV

Apa aku salah mengambil tindakan seperti ini?

Kenapa aku merasa aku begitu jahat? Apa aku egois? Mungkin iya.

Apa dia memikirkan mengapa aku berubah dingin padanya? Kurasa iya.

“Eottheokhae?”

“Mworago?” tanya Sungyeol kemudian.

Mwo? Apa aku menyuarakan pikiranku sendiri? Aish~ Paboya Kim Myungsoo!

“Haruskah aku bercerita pada orang yang tidak peka sepertimu, Sungyeolㅡ” geezz sepertinya aku salah bicara!

“Ah.. mianhae.. Suasana hatiku sedang buruk sekali” lanjutku kemudian. Semoga saja Sungyeol tidak tersinggung dengan kata-kata tadi.

Ku lihat Sungyeol memalingkan wajahnya lalu tersenyum seperti biasa.

“Gwenchana. Kalaupun kau tidak mau bercerita padaku juga tidak apa-apa. Tapi aku tau kau sedang ada masalah” balas Sungyeol sembari mengambil sesuatu dari saku sweaternya.

Ia mengulurkan sesuatu kepadaku. Aku hanya menatapnya dengan heran.

“Ambillah~ Coklat dan es krim bisa membuat perasaanmu lebih baik. Namun, aku hanya punya coklat. Lain kali saja aku belikan kau es krim kkkkk” ujarnya lalu terkikik sendiri. Lee Sungyeol, aku tidak tau harus bicara apa lagi.

Ku sunggingkan sebuah senyuman sebagai ucapan terimakasih. Namun, kurasa aku tak dapat tersenyum dengan baik, atau lebih tepatnya aku tersenyum dengan dipaksakan.

Mungkin kelihatannya Sungyeol tidak mengerti apa-apa, tapi aku tau dia pasti sadar akan senyumku yang dipaksakan ini. Aku harap dia mengerti. Begitu berat untukku tersenyum saat ini..

Ku pandangi coklat pemberian Sungyeol.

Aku lupa terakhir kali aku makan. Kemarin? Kurasa iya.

Rasa lapar sama sekali tidak terasa olehku. Mungkin karena aku sibuk memikirkan ‘dia’.

Kenapa aku juga menyakiti diriku sendiri? Ya Tuhan.. aku benar-benar sudah di luar kendali. Semua ini harus ku akhiri. Aku akan jujur padanya. Aku akan mnengungkapkan perasaanku padanya. Aku tidak peduli apakah dia akan membenciku, menjauhiku, atau lebih buruk lagi.. dia tidak mau mengenalku lagi.

~~~~~~~~~~

AUTHOR POV

“Ah.. garagara tugas yang menumpuk ini aku harus pulang malam. Kasian sekali aku” ujar Hyori pada dirinya sendiri. Hyori masih teringat tadi siang saat ia bersama Jiyeon dan ia harus pergi ke kampus karena banyak sekali tugas yang harus dikerjakan.

Hyori baru saja keluar dari gedung kampusnya. Hyori melirik jam tangannya. Sudah jam 09.30.

“Aigoo ini sudah sangat malam!!” teriak Hyori cemas. Lalu dia membereskan buku-buku yg dibawanya. Hyori berjalan dengan cepat karena ia takut ketinggalan kereta akhir.

Di sebuah gang kecil dan gelap Hyori berjalan sendirian. Hyori merasa ada yg mengikutinya. Hyori takut dan semakin mempercepat laju jalannya. Lalu ia menoleh ke belakang dan ia mendapati seorang namja memakai hoodie berwarna hitam.

Namja itu kelihatannya bukan orang baik. Lalu Hyori berteriak, “Hey kenapa mengikutiku?”

Namja itu mendekat lalu mendorong Hyori ke tembok. Buku-buku yang dipegang Hyori pun jatuh ke jalanan. Hyori pun berusaha lari namun tangannya di cekal oleh namja itu.

Namja itu menarik Hyori ke pelukannya lalu memeluk Hyori. Hyori meronta-ronta, “Lepaskan aku!!! Toloooong!!!!!” teriak Hyori ketakutan.

“Disini tidak ada orang, chagiya. Bersenang-senanglah denganku malam ini” bisik namja itu di telinga Hyori.

Hyori semakin meronta tapi badan namja itu kuat. Namja itu semakin memeluk Hyori. Hyori pun menangis. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa begitu lemah saat ini.

“Ya! Apa yg kau lakukan pada yeoja itu?!” bentak seorang yeoja terdengar begitu murka.

Hyori dan namja itu langsung menoleh pada yeoja itu. Namja itu melihat yeoja itu dengan tatapan meremehkan. Lalu ia melepaskan Hyori dan mendorong Hyori ke belakang dan berjalan mendekati yeoja yang tidak dikenal tersebut.

“Nuguya?! Apa urusanmu hah?!” maki namja itu dengan kasar.

Yeoja itu terlihat semakin marah. Ia mengambil sebuah kayu yang tidak jauh darinya lalu memukul pundak namja itu sekuat-kuatnya. Namja itu langsung lumpuh dalam sekali pukulan. Kekuatannya hilang dan ia langsung tersungkur di tanah.

“Rasakan itu, sialan!!” maki yeoja itu lalu membuang kayu yang dipegangnya tadi.

Hyori yang terduduk di pinggir jalanan hanya diam. Badannya menggigil, wajahnya pucat pasi. Kondisinya dapat membuat iba orang-orang yang melihatnya.

Yeoja itu lalu berjalan mendekati Hyori.

“Hey.. Gwenchana?” tanya yeoja itu hati-hati.

Hyori mengangkat wajahnya lalu menatap yeoja itu tanpa ekspresi.

“Nuguseyo?” tanya Hyori pelan. Entah mengahap Hyori merasa suara hilang. Ia begitu takut saat ini.

“Tenang saja~ Aku tidak jahat seperti orang sialan tadi. Namaku Jung Myungji. Ku rasa kau sangat ketakutan saat ini. Mau aku antarkan pulang?” tawar yeoja yang bernama Jung Myungji pada Hyori.

Hyori hanya menganggukkan kepalanya.

~~~~~~~~~~~

Myungsoo berjalan tak jelas arah sedari tadi.

“Sudah larut malam seperti ini kenapa dia belum pulang juga?” batin Myungsoo.

Perasaan Myungsoo benar-benar buruk saat ini. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Hyori. Sesuatu hal yang buruk. Karena Myungsoo tau, tidak mungkin seorang Kim Hyori belum pulang larut malam.

Myungsoo menatap langit-langit ruangan dengan gelisah.

“Ya Tuhan.. Lindungilah ia apapun yang terjadi” doa Myungsoo.

Kali ini Myungsoo melihat jam dinding untuk yang kesekian kalinya. Hampir tengah malam.

Apakah ia harus melakukan sesuatu daripada hanya berjalan tak tentu arah disini?

Lalu Myungsoo langsung menyambar kunci mobilnya dan hendak beranjak meninggalkan rumah. Saat ia membuka pintu rumah, disitulah ia melihat 2 orang yeoja sedang berdiri di depan pintu.

“Hyo…ri?” gumam Myungsoo terbata melihat kondisi Hyori. Lalu mata Myungsoo beralih pada yeoja yang sedang memapah Hyori. Myungsoo mengenal yeoja ini. Ya, yeoja ini adalah yeoja yang menabrak Sungyeol di konser jazz seminggu yang lalu. Kalau tidak salah namanya Myungji.

“Apa yang terjadi?!” tanyaku khawatir

“Jangan tanyakan itu dulu! Kita harus membawa yeoja malang ini untuk beristirahat. Ia mendapat pengalaman yang begitu buruk” ujar yeoja itu kesal.

Myungji memberikan Hyori kepada Myungsoo. Kini Myungsoo tengah menggendong Hyori dan ia langsung berjalan menuju kamar Hyori diikuri oleh Myungji.

Myungsoo membaringkan Hyori di tempat tidurnya. Setelah itu ia menatap Myungji dengan tatapan agar Myungji menceritakan apa saja yang terjadi pada Hyori.

“Yeoja itu hampir saja diperkosa oleh seseorang di sebuah gang saat yeoja itu hendak pulang” ujar Myungji kemudian.

Mata Myungsoo seketika membesar. “MWORAGO??!???”

-TBC-

Destiny (Part 1)

•Januari 19, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Author: narachikim

Genre: Chapter, Romance, Friendship.

Cast: Kim Hyori, Lee Sungyeol, Kim Myungsoo (L), Jung Myungji

AUTHOR POV

Seorang yeoja berjalan menuju sebuah kamar sambil memeluk sebuah boneka. Ketika ia masuk, keadaan kamar gelap gulita. Ia pun masuk ke dalam dan mencari tombol lampu. Ketika ia dapatkan tombol lampu itu, di tekannya lalu menyala lah lampu kamar. Lalu ia mendapati seorang namja sedang tidur. Yeoja itu mendekati namja tersebut lalu membangunkannya.

“Kim Myungsoo! Bangun!” bisik yeoja itu di telinga namja bernama Myungsoo. Myungsoo tidak menjawab. Ia masih tertidur. Karena gemas yeoja itu pun mengguncang badan Myungsoo sampai Myungsoo terbangun.

“Aigooo. Sekarang jam 2 pagi Kim Hyori. Kenapa membangunkanku?” gerutu Myungsoo lalu menarik selimutnya menutupi kepalanya. Yeoja bernama Hyori itu pun langsung menarik lari selimut Myungsoo kebawah. Myungsoo menyerah. “Ada apa?” tanya Myungsoo kemudian.

“Jangan berpura-pura tidak tahu” jawab Hyori dengan kesal. Myungsoo menegakkan badannya dan menyandarkan punggungnya di tempat tidurnya. Lalu ia menatap Hyori dengan tatapan seakan berkata ‘Lalu?’

“Aisssh Kim Myungsoo, padahal aku sudah sering mengganggu jam tidurmu dan kau masih berani bertanya? Tentu saja kau tau apa yang harus kau lakukan jika aku sudah mengganggu jam tidurmu” omel Hyori sambil melempar bonekanya ke wajah Myungsoo. Myungsoo tersenyum geli, lalu ia pun bangkit dari tempat tidurnya lalu mengambil sebuah gitar di samping meja belajarnya. Kemudian ia duduk di sebuah kursi, Hyori mengikuti Myungsoo dan duduk di lantai yang dialasi karpet. “Kau ingin aku menyanyikan lagu apa?” tanya Myungsoo sambil memetik asal senar gitarnya.

Hyori mengerutkan kening memikirkan lagu yang bagus.

“Hmm bagaimana kalau lagu Can U Smile? Itu lagu favoritku” jawab Hyori bersemangat. Myungsoo pun mengangguk mengerti. Myungsoo juga menyukai lagu tersebut. Dan jari-jari Myungsoo pun mulai bermain dengan senar gitar dan Myungsoo bernyanyi.

Aju orae jeon neoreul boatdeon
Geu neukkimeul gieokhe nan
Neoreul alatdeon nareul alatdeon
Geu shijeoli saenggakna

Neoreul dalgo shipdeon eouligo shipdeon
Ganjeolhaetdeon shiganeul
Nan dashi saenggakhae

Da jinagan hannat chueok bboningeol

And, Can you smile?

Niga weonhajana
Niga barajanha
Nae mam maneuroneun
Neol jabeul suga obtneungabwa

And, Can you smile?

Naega garajanha
Nan gwaenchandajanha
Majimak neo-ege
Nan igeot bakken mot junabwa

Imi orae jeon naega badatdeon
Ni mameumeul gieokhae nan
Naegen neomchideon niga gomabdeon
Geu shijeoli saenggakna

Gajang saranghal ddae gajang haengbokhal ddae
Ibyeoleul majuhaesseo
Naegen cham neomchyeoseo

Mianhaeseo jabadul su eobtneungeol

And, Can you smile?

Niga weonhajana
Niga barajanha
Nae mam maneuroneun
Neol jabeul suga obtneungabwa

And, Can you smile?

Naega garajanha
Nan gwaenchandajanha
Majimak neo-ege
Nan igeot bakken mot junabwa

Geuredo geuredo gyeolguk geuredo nan,
Hajiman amado gyeolguk geuredo nan
Geuredo geuredo gyeolguk geuredo nan,
Hajiman gyeolguk geuredo nan

Geure binbeonhaejin
Ni geu mal dabdabhaesseo byeonhaejin
Ne maltuwa hengdongee
Halmal obtge mandeundago
Hwaman nage dodgundago
Ttoadaemyeo gyeokhaejin
Bam haneule

Byeoli balghyeojwittji
Dali bichyeojwittji
Hanshi gal gil gatji
Byeoldeulgwa bami onda
Dareun byeole gareojil bbun
The moon always stay there
I’ll always be here for you, want you

And, Can you smile?

Neol jabgo shipjiman
Butjabgo shipjiman
Ne gyeote isseoseo
Neon useumeul ireogajanha

And, Can you smile?

Naega garajanha
Nan gwaenchandajanha
Ne gyeoteul ddeonaya
Neon haengbokhal su isseunikka

Satu hal yang Hyori sukai dari Myungsoo, Myungsoo terlihat keren jika sedang bermain gitar. Itulah sebabnya Hyori sering meminta Myungsoo bermain gitar untuknya. Dan kadang jika Myungsoo sudah menyanyikan lagu untuknya, maka ia juga akan meminta dilukis oleh Hyori. Hyori memiliki bakat melukis. Itu sudah keturunan.

Semua anggota keluarga Kim bisa melukis. Bisa dibilang bakat lukis Hyori paling bagus. Namun Myungsoo tidak mewarisi bakat melukis keluarga Kim. Myungsoo kadang iri dengan kemampuan melukis Hyori. Tapi Myungsoo bersyukur ia memiliki bakat bermain gitar akustik. Hyori sering memujinya ketika bermain gitar.

Ketika lagu Can U Smile selesai mengalun. Hyori tepuk tangan dengan riuh. Namun cepat-cepat ditahan Myungsoo.

“Kau jangan sampai membangunkan ahjumma, Hyori!” omel Myungsoo. Hyori memutar matanya. “Tenang saja, umma tidak akan dengar. Kau ini sepupu-ku yang paling penakut” balas Hyori mencibir.

Myungsoo balas mencibir. “Aku? Penakut? Bukankah kau yang penakut? Umurmu sudah 19 tahun tapi masih juga penakut”.

Hyori mendengus. Memang ia penakut, bahkan sangat penakut. Tidur saja dia tidak berani mematikan lampu. Kalau sudah terbangun dan tak bisa tidur Hyori selalu menganggu jam tidur Myungsoo. Awalnya Myungsoo terganggu. Namun lama kelamaan ia sudah terbiasa kalau tengah malam ia dibangunkan dan ia mendapati sepupu-nya yg meminta dinyanyikan sebuah lagu.

“Sudah kan? Nah sekarang kembalilah ke kamarmu dan tidurlah. Besok kau kuliah kan?” tanya Myungsoo lembut lalu meletakkan kembali gitarnya. Hyori menggeleng. “Aniya. Aku tidur disini saja”.

“Hey nona Kim. Kau gila?” ujar Myungsoo terkejut.

“Aku tidak gila kok. Aku tidur di sofa saja. Kau tidur di tempat tidurmu” tutur Hyori lalu beranjak ke sofa.

Myungsoo tetap tak bisa membantah sepupunya itu. “Tak baik kalau kau yg tidur di sofa. Aku saja yg tidur di sofa” ujar Myungsoo langsung menduduki sofa. Hyori kembali melempar Myungsoo dengan bonekanya. Tapi kali ini Myungsoo cepat, ia menangkap boneka itu dengan mudah. Ia tertawa pelan. Hyori menggembungkan pipinya gemas. Lalu ia berjalan menuju tempat tidur Myungsoo. Saat Hyori menarik selimut ke badannya, Myungsoo memanggil Hyori. Hyori menoleh. “Selamat pagi” tutur Myungsoo. Hyori mencibir lalu menutup matanya.

~~~~~~~~~

Sinar matahari masuk ke dalam kamar Myungsoo. Myungsoo pun terbangun. Ia menarik selimutnya ke bawah dan duduk. Matanya masih berkunang-kunang. Dilihatnya tempat tidurnya kosong. Dan Myungsoo sadar. Rasanya tadi ia tidak memakai selimut. Bibirnya pun reflek tertarik dan membuat sebuah senyuman.

~~~~~~~~~~

Hyori mengoles selai coklat ke roti tawarnya. Saat itu ia sedang bersama umma dan appa.Tangan Hyori begitu bersemangat mengoles rotinya dengan selai.

“Mana Myungsoo, Hyori?” tanya umma. Hyori mengangkat bahu pertanda tidak tau. Umma tidak bertanya lagi. Lalu Myungsoo pun turun dari tangga dan duduk di samping Hyori.

“Nah ini dia” ujar Hyori.

Myungsoo hanya tersenyum. “Untukku mana?” tanya Myungsoo.

“Mwoya?” tanya Hyori bingung. Myungsoo pun menunjuk roti yang sedang dioles selai coklat milik Hyori. Hyori mencibir “Ini punyaku. Kalau mau buat sendiri”

Myunsoo balas mencibir, “Pelit”

~~~~~~~~~~

Myungsoo hendak pergi mengantar Hyori kuliah. Hyori sudah masuk duluan ke dalam mobil sementara Myungsoo masuk kembali ke rumah karena ada yang tertinggal.

“Apa yg ketinggalan?” tanya Hyori.

Myungsoo mengangkat sehelas kertas. Hyori membacanya, “Tiket konser?”.

Myungsoo hanya mengangguk.

“Oh ya nanti mau ku jemput?” tawar Myungsoo.

Hyori menggeleng, “Nanti ada karnaval di balai kota. Aku mau lihat”.

“Hmm baiklah kalau begitu” ujar Myungsoo lalu menghidupkan mesin mobilnya. Setelah itu ia pun melajukan mobilnya menuju Chung-Ang University.

~~~~~~~~~~

Hyori POV

Wah senang sekali jadwal kuliah hari ini sebentar sekali. Dan selanjutnya aku akan pergi ke karnaval! Pasti karnaval nanti akan jadi objek menarik untuk dilukis.

Aku beranjak meninggalkan kampus dan segera menuju balai kota.

Saat sampai di balai kota, suasana ramai sekali. Balon-balon dimana-mana. Balon gelembung juga bertebaran di udara. Suara marching band terdengar riuh. Stand-stand penjual makanan juga banyak. Suara gembira dari anak-anak. Asik sekali!

Karena terlalu asik dengan pemandangan kota aku jadi tidak lihat jalan dan.. BRUK!!

Sepertinya aku menabrak seseorang dan aku terjatuh.

“Aaww” jeritku pelan. Aku tidak melihat siapa orang yang ku tabrak.

“Aigooo~ Gwenchana? Mianhae aku tidak lihat jalan karena aku sibuk dengan kameraku” tutur seseorang.

Terdengar seperti suara namja. Aku pun mendongakkan kepalaku. Memang seorang namja. Namja itu membantuku berdiri. Aku diam saja tidak menjawab pertanyaan namja tadi.

“Gwenchana?” ulang namja itu. “Eh? Oh ya aku baik-baik saja” jawabku canggung. Namja itu tersenyum ramah. Aku pun balas tersenyum. Namun dalam hati entah mengapa aku merasa begitu canggung. Awkward moment!

“Kau yakin kau baik-baik saja?” tanya namja itu lagi.

Sebuah anggukan aku lontarkan sebagai jawaban.

“Hmm bolehkah aku minta tolong?” tanya namja itu kemudian.

Aku kembali mengangguk.

Namja itu tersenyum “Maukah kau memfotoku dengan badut itu? Daritadi aku membutuhkan seseorang untuk membantuku. Kurasa kau mau membantuku hehe” pintanya sambil tertawa.

Dalam hati aku ikut tertawa. Seperti melamar saja.

Aku pun tersenyum lalu mengangguk. Kami berjalan menuju seorang badut yang tengah menghibur anak-anak. Namja itu memberikan kameranya padaku lalu ia berpose dengan badut itu.  Namja itu berpose aneh dan meletakkan jarinya di bawah hidung badut itu.

“Choding” batinku dalam hati.

Setelah itu aku memberikan kamera namja itu. Ia berterimakasih  lalu membungkukkan badannya. Aku jadi semakin canggung.

“Aku harus pergi” tuturku kemudian. Namja itu kembali tersenyum. Aku pun berbalik dan pergi ke sisi lain balai kota karena aku ingat tujuanku kemari karena ingin melukis pemandangan karnaval ini.

Author POV

Namja itu memperhatikan kepergian yeoja itu sampai benar-benar menghilang. Lalu namja itu kembali melanjutkan aktivitasnya lagi. Sambil berjalan namja tersebut masih memikirkan kejadian tadi. “Apa aku mengenalnya? Entah mengapa melihatnya saja aku merasa bahwa aku mengenalnya” gumam namja itu.

Drrrtt.. Drrrrtt

Namja itu mengambil handphone-nya. Ada pesan.

From: Guitar-boy
Choding-boy! Temui aku sekarang! Aku bosan sekali dirumah sendirian kalau tidak ada sepupuku.

Namja itu tersenyum lalu membalas pesan tersebut.

To: Guitar-boy
Jadi aku tempat pelarianmu? Kau jahat sekali Myungsoo. Kkkkkk. Aku akan ke cafe tempat biasa. Ku tunggu kau guitar-boy!

Namja itu pun langsung pergi menuju sebuah cafe.

Hyori POV

Sketsa gambar yang kubuat hampir selesai. Dan.. YAP! Sketsa gambarku selesai. Tinggal diwarnai saja dirumah. Aku pun menyimpan buku sketsa-ku ke dalam tas. Lelah juga rasanya. Aku pun merentangkan kedua tanganku dan ku hirup udara dan kuat.

Entah kenapa aku merasa ada yang lain dengan namja tadi. Dia lucu. Choding. Aku tersenyum mengingat namja tadi. “Ah paboya! Tadi aku belum sempat berkenalan dengan namja itu!” gerutuku.

Author POV

“Lee Sungyeol!” panggil Myungsoo pada seorang namja yang sedang duduk di sebuah cafe. Namja yang bernama Lee Sungyeol itu pun menoleh dan melambaikan tangannya pada Myungsoo. Myungsoo pun langsung duduk di hadapan Sungyeol yang sedang sibuk dengan kameranya.

“Apa saja yang kau lakukan di karnaval tadi? Kau tidak mengganggu noona-noona ataupun yeoja manapun dengan tarian anehmu itu kan? Kkkk” ledek Myungsoo.

Sungyeol mencibir. Melihat cibiran Sungyeol, Myungsoo pun tertawa.

Sungyeol adalah sahabat Myungsoo. Mereka dulu satu sekolah di senior high school. Namun mereka tidak satu universitas kini. Tapi itu bukan masalah untuk mereka. Mereka masih bisa bertemu dan pergi bersama.

“Oh ya kau tadi dari karnaval kan? Sepupuku juga pasti sedang disana tadi” ujar Myungsoo.

Sungyeol mengerutkan keningnya. Walaupun sudah bersahabat lama dengan Myungsoo tapi Sungyeol belum pernah bertemu sama sekali dengan sepupu Myungsoo. Myungsoo sering sekali menceritakan sepupunya itu pada Sungyeol.

“Jinjja? Sayang sekali aku tidak tau yang mana sepupu-mu itu Myungsoo” jawab Sungyeol dengan raut wajah kecewa.

“Lain kali kau harus bertemu dengan sepupuku itu, Sungyeol! Pasti kau senang kalau bertemu dengannya” tawar Myungsoo. Sebuah anggukan dan senyuman dapat dilihat dari wajah Sungyeol.

~~~~~~~~~~


“Kau tidak lupa kan bawa tiket konsernya?” tanya Myungsoo pada Sungyeol.

Sungyeol menatap Myungsoo dengan tatapan ‘tenang saja aku bawa tiketnya’.

Myungsoo dan Sungyeol pun keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung tempat sebuah konser jazz berlangsung.

Sewaktu mereka masuk seorang yeoja tiba-tiba lewat dan menabrak Sungyeol. Minuman yang dibawa Sungyeol pun tumpah dan mengotori pakaiannya dan pakaian yeoja itu. Yeoja itu terkejut. Sungyeol dan Myungsoo juga. Yeoja itu merasa sangat bersalah dan membersihkan pakaian Sungyeol dengan tissu.

Sungyeol merasa canggung lalu memegang tangan yeoja itu. Seketika yeoja itu berhenti dan ia menatap Sungyeol dengan wajah merona.

“Jangan begitu. Aku bisa membersihkannya sendiri. Lebih baik kau juga membersihkan pakaianmu. Mianhae, garagara minumanku tumpah pakaianmu jadi kotor begini” tutur Sungyeol sambil membungkukkan badannya.

Yeoja itu jadi tidak enak karna tindakan Sungyeol barusan. Padahal ia yang salah karena menabrak Sungyeol. Kenapa malah dia yang minta maaf?

“Ah aku lah yg salah. Mianhae” tutur yeoja itu kemudian.

Sungyeol melontarkan sebuah senyuman. Lalu Sungyeol mengajak Myungsoo ke toilet untuk membersihkan pakaiannya. Kedua namja itu pun pergi ke toilet. Mata yeoja tadi tidak bisa berhenti menatap punggung Sungyeol.

“Dia namja yg baik hati” tutur yeoja itu terpesona.

~~~~~~~~~~

“Yaaa, Jung Myungji! Lihatlah dirimu! Kotor sekali~ Kenapa bisa kotor begini?” tanya seseorang yang mengejutkan yeoja yang bernama Jung Myungji tersebut. Myungji menghela nafas lega.

“Aa~ Younghee unnie~ Jeongmal mianhae~ Tadi aku menabrak seorang namja dan minuman namja itu tumpah sehingga pakaian ini jadi kotor. Ini salahku~” tutur Myungji jujur.

Younghee hanya menggeleng-geleng menatap dongsaeng-nya.

“Gwenchanayo~ Pergilah ke backstage, minta ke salah satu staff pakaian yg bisa kau pakai. Bilang ini perintahku” perintah Younghee. Lalu Myungji berterimakasih kemudian pergi ke backstage sesuai perintah Younghee.

“Ya Tuhan, apa ini yg namanya first love at the first sight?” gumam Myungji sambil memegangi pipinya yang terasa hangat. “Aish~ Lupakan!”

~~~~~~~~

“Kau itu terlalu baik, Yeol~” ujar Myungsoo.

Myungsoo dan Sungyeol kini sedang berada di toilet. Sungyeol sibuk membersihkan pakaiannya hingga ia tidak menjawab  kata-kata Myungsoo.

“Hmm apa ini sudah bersih?” tanya Sungyeol pada Myungsoo sambil memperlihatkan pakaiannya. Myungsoo memperhatikan pakaian Sungyeol, “setidaknya pakaianmu tidak sekotor tadi” jawab Myungsoo.

Sungyeol menarik nafas. “Kau tahu? Hari ini aku menabrak seorang yeoja di karnaval dan seorang yeoja menabrakku di sebuah konser musik. Apa maksudnya ya?” tutur Sungyeol.

Myungsoo hanya mengangkat bahu. “Siapa yeoja yg kau tabrak?”

“Mollayo~ Aku lupa menanyakan namanya. Aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi” ujar Sungyeol berharap.

~~~~~~~~

Sungyeol dan Myungsoo kini sudah duduk nyaman sambil menikmati konser jazz.

Tepat dibelakang Sungyeol duduk Myungji yang menyadari bahwa Sungyeol duduk di depannya. Myungji tidak sepenuhnya menonton konser. Melainkan sibuk berkhayal tentang Sungyeol.

“Selain baik dia juga tampan” gumam Myungji pelan.

Tidak terasa sudah 3 jam konser berlangsung, dan akhirnya konser itupun berakhir. Myungji pun bangkit dari duduknya mengikuti penonton lain. Ia berharap Sungyeol melihatnya dan mengajaknya bicara. Dan harapan Myungji menjadi kenyataan. Sungyeol melihatnya dan tersenyum ramah pada Myungji. Myungji menjadi gugup dan ia pun membalas senyuman Sungyeol.

“Annyeonghaseyo~” sapa Sungyeol ramah. Myungji mematung tidak bisa menjawab karena gugup sekali.

“Joneun Lee Sungyeol imnida. Panggil saja Sungyeol. Siapa namamu?” ujar Sungyeol masih ramah dan tidak lupa senyuman berbinar dari wajah Sungyeol.

“Eh? Oh.. emm.. Joneun Jung Myungji. Myungji imnida~ Bangapseumnida Sungyeol-ssi..”

-TBC-

Destiny (Prolog)

•Januari 16, 2012 • 1 Komentar

Hai semua~~

Author balik lagi dengan fanfiction baru~ Kali ini author bakal ngenalin tokoh-tokoh dari ff Destiny. Check this out!

Author: narachikim

Genre: Chapter, Romance, Friendship.

Tokoh:

Kim Hyori

• Beauty

• Kindhearted

• Suka menyimpan perasaan

• Seorang mahasiswa seni di Chung-Ang University

• Memiliki bakat melukis

• Sepupu Myungsoo

Lee Sungyeol

• Childish

• Tidak peka terhadap perasaan orang lain

• Cheerfull

• Friendly

• Sahabat Myungsoo

• Mahasiswa musik di Seoul National University

• Memiliki bakat menari yang aneh namun bisa membuat orang yang melihatnya tertawa

Kim Myungsoo / L

• Ice Prince

• Cold outside, warm inside

• Memiliki bakat bermain gitar akustik

• Sahabat Sungyeol, sepupu Hyori

• Mahasiswa musik di  Sungkyunkwan University

Jung Myungji

• Shy girl

• Soft heart

• Mahasiswa musik di Universitas yang sama dengan Hyori

• Inner-beauty

• Memiliki bakat bernyanyi

~~~~~~~~~~~

Aku duduk di tepi sungai Han sambil menerawang. Entah sudah berapa lama aku disini aku juga tidak tahu. Yang jelas kini pikiranku tengah  kacau. Pikiranku kembali menerawang, di sisi lain aku ingin menolong Myungji tetapi aku juga tidak rela dan aku juga tidak bisa bisa menyampaikan perasaanku. Aku benar-benar bingung harus bagaimana.

Tuhan, apa kau punya jalan keluar untukku?

Jika di takdirku, aku harus bagaimana? Apakah aku harus diam saja atau aku harus berbuat sesuatu?

Thank You (Part 2)

•Desember 23, 2011 • 1 Komentar

Hello reader semuanya!! *teriak bareng Kyu*. Setelah sekian lama hiatus dari dunia ff akhirnya author sarap balik lagi mehehehe (ʃ⌣ƪ) pasti pada kangen *padahal ngga ada yang kangen*

Okelah daripada memperpanjang basa-basi yang sama sekali ngga ada penting-pentingnya mending langsung baca lanjutan ff-nya ya-_-v

Happy reading, guys!

~~~~~~~~~~~

Author: narachikim

Cast: Cho Kyuhyun, Kim Hyori, Krystal Jung, etc.

Genre: Chapter, Romance, Friendship.

Part : Prolog| Part 1

~~~~~~~~~~~

Author POV

Hyori terdiam dalam dalam kesunyian. Tubuhnya yang tergeletak di atas kasur membuatnya malas untuk melakukan sebuah aktifitas. Bola mata Hyori terus menatap ke langit-langit kamar. Warna sapphire blue yang membuat Hyori tidak dapat melepas pandangannya tersebut. Pikirannya dipenuhi sejuta pertanyaan yang tak dapat ia jawab.

Tuhan.. apakah kau benci padaku?” batin Hyori dalam hati. Mata bulat Hyori pun menutup lalu air mata pun meleleh dari kedua mata tersebut. Isakan mulai terdengar dari mulut Hyori. Suara isakan Hyori mengisi kesunyian yang ada dalam kamarnya. Tidak akan ada yang tau bahwa ia menangis. Tidak akan ada yang tau bahwa ia membutuhkan bahu tempat untuk ia menangis. Tidak akan pernah ada..

~~~~~~~~~~~

“Jangan pernah menyesali apa yang telah Tuhan berikan untukmu. Tuhan telah merencakan sesuatu yang indah untukmu. Tunggulah hingga keindahan itu muncul dalam kehidupanmu”.

Suara itu terdengar begitu familiar di telinga Hyori. Namun rasanya ia sudah lama tidak mendengarnya, sehingga ia lupa siapa pemilik suara tersebut. Hyori pun mencari asal suara tersebut. Di pojok kamar, Hyori menemukan seorang yeoja tinggi yang sedang mematung menatap foto Hyori. Rasa penasaran pun muncul dalam benak Hyori. Siapa yeoja ini? Apakah ia mengenalnya? Hyori pun menjauhkan selimut yang menutupi kaki-nya lalu turun dari tempat tidurnya. Hyori menghampiri yeoja itu. Tangan Hyori hendak meraih bahu yeoja itu. Namun, yeoja itu langsung menoleh. Hyori terdiam mematung. Ia kenal siapa yeoja ini.  Wajah yang sangat ia rindukan. Wajah yang hanya bisa Hyori tatap melalui foto. Wajah yang telah lama meninggalkannya. Wajah yang membuat Hyori begitu kehilangan. Wajah yang membuat appa sangat frustasi karena kepergiannya.

Ya.

Eomma sedang berdiri di hadapannya.. di hadapan Hyori. Wajahnya masih sama tetap ramah seperti terakhir Hyori melihat eomma-nya 13 tahun yang lalu. Senyum merekah menghiasi wajah cantik eomma. Air mata Hyori pun kembali meleleh.

Badan Hyori pun rebah dan jatuh ke dalam pelukan eomma-nya. Hyori memeluk erat eomma seakan tak akan lepas. Eomma Hyori hanya tersenyum lalu membalas pelukan Hyori.

“Daridulu… aku merindukan eomma. Ingin kembali bertemu eomma. Tapi rasanya tak mungkin. Namun, kini aku melihat eomma. Aku rindu sekali”. tutur Hyori sambil terisak. Ia tidak bisa lagi menahan perasaannya.

“Jangan menangis.. Eomma tak bisa melihatmu menangis”. tutur eomma lembut sembari mengelus rambut panjang Hyori lalu mengusap air mata anaknya tersebut.

Hyori merenggangkan pelukannya. Ia tatap wajah eomma-nya. Eomma masih tersenyum.

“Eomma.. Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkanku. Aku sangat membutuhkan kasih sayang eomma disini”

Eomma tersentak begitu mendengar kata-kata Hyori. Di elusnya kembali rambut Hyori. Kenyataan yang memang tak mungkin terjadi.

“Maafkan eomma, Hyori. Memang eomma tidak bisa memberimu kasih sayang. Namun, aku selalu berada dalam hatimu. Percayalah~ Dan ingatlah. Tuhan tidak pernah membencimu. Tuhan sangat menyayangimu lebih dari kau tau~”

Tangan eomma pun mengelus pipi Hyori. Tapi aneh, Hyori tidak dapat merasakan apa-apa. Hyori mencoba meraih tangan eomma. Tak bisa. Tangan eomma bagaikan sebuah dimensi yang tak dapat disentuh.

Air mata Hyori kembali mengalir. Keberadaan eomma semakin menjauh.

“Eomma mau kemana? Ku mohon jangan tinggalkan aku lagi”

~~~~~~~~~~~~~

HYORI POV

Aku terbangun dengan keringat yang bercucuran di dahi-ku. Pandanganku menyapu seluruh kamar berharap ada seseorang. Dan aku tidak menemukan siapapun. Aku hanya sendiri. Apa aku pun perlu mati dalam kesendirian?

Aku bangkit dari tempat tidurku lalu bergegas keluar rumah. Tak lupa ku ambil gitar-ku sebelum pergi dari rumah. Hanya dengan ini aku bisa sedikit tenang.

KYUHYUN POV

Tidak ada yang bisa ku lakukan hari ini. Entah mengapa aku memilih berada di rumah saja hari ini. Hari ini panas sekali. Aku jadi malas ke luar rumah. Kamarku sunyi sekali, ah bukan hanya kamarku saja. Rumah ini juga sunyi sekali, seperti rumah hantu saja.

Selama 2 jam di dalam rumah yang terdengar hanya suara kipas angin. Aku terdiam mematung dari dalam kamar melihat keluar jendela memandang langit dan melihat jalanan di bawah. Sesekali aku memperhatikan orang-orang yang lewat di depan rumah.

Satu jam telah berlalu. Namun aku masih tetap berkutat dengan aktifitasku sedari tadi. Merasa bosan saja tidak. Bagaimana tidak, dari kecil aku memang sudah terbiasa melihat langit, memperhatikan jalanan, dan terkadang mengganggu yeoja dan noona cantik yang lewat ㅋㅋㅋㅋ

Entah apa yang menahanku untuk tetap bertahan memandang keluar jendela. Jika dilewatkan sebentar saja rasanya rugi sekali.

Tiba-tiba saja mataku tertuju pada seorang yeoja yang sedang berdiri di pertigaan jalan di dekat rumah. Padahal tidak ada yang menarik tapi tetap saja mataku ingin tetap melihat kesana.

Yeoja itu masih berdiri mematung. Entah apa yang akan dilakukannya aku tidak tau. Sepertinya yeoja itu sendiri juga bingung ingin pergi kemana. Aku tidak tau itu siapa, tapi aku merasa aku mengenalnya. Gezz aku tidak bisa mengenali siapa pemilik wajah itu. Wajahnya samar-samar terlihat olehku. Ku perhatikan yeoja itu, dia sedang menendang-nendang batu kecil. Aneh. Sedang apa yeoja itu disana?

Tak lama kemudian yeoja itu menyebrangi pertigaan jalan dan sepertinya akan melewati rumahku. Ini kesempatanku untuk mengetahui siapa yeoja itu. Jarak yeoja itu semakin dekat dengan rumahku. Aku masih memperhatikan.

Yeoja itu…

Ya. Aku memang kenal dengannya. Apa yang ia lakukan? Kenapa membawa gitar? Dia bisa bermain gitar?

HYORI POV

Aku terdiam mematung di sebuah pertigaan jalan. Aku bingung hendak bermain dimana. Taman tempat aku biasa bermain gitar sedang dalam proses renovasi. Ku tendang batu-batu kecil di sekitarku.

Yah apa daya. Aku harus mencari taman terdekat disini.

Aku pun kembali melanjutkan perjalananku. Ku sebrangi pertigaan jalan tersebut lalu berjalan di sebuah trotoar.

Mataku tertuju pada sebuah papan penunjuk arah. Disini terdapat sebuah taman. Bagus! Aku bisa bermain disana!

Ku peluk gitarku sambil berjalan. Entah hanya firasatku atau memang benar aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan. Aku pun menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Ahh hanya firasatku saja..

KYUHYUN POV

Jika dilihat-lihat sepertinya dia ingin pergi ke taman. Aku pun segera berbalik lalu mengganti pakaianku. Sepertinya aku akan memata-matainya. Aku sangat penasaran dengan yeoja ini.

Pintu rumah sudah ku kunci rapat-rapat. Aku pun mulai berjalan menuju taman. Taman itu memang tidak begitu jauh jaraknya dari rumah. Taman itu tempat aku bermain sedari kecil. Taman itu memang sudah banyak berubah. Itu membuatku merindukan masa lalu.

Sesampai di taman tersebut aku pun mulai mencari dimana dia berada. Dan dengan cepat aku menemukan yeoja itu sedang memainkan jari-nya diatas senar gitar. Aku pun bersembunyi dibalik semak-semak terdekat dengannya. Di balik semak-semak aku juga mengintip.

Jigeum naega haneun yaegi
Neol apeuge halji molla
Ama nal jukdorok miwohage doel kkeoya

Naega yejeon gatji antadeon ne mal
Modu teullin mareun aniya
Nado byeonhaebeorin naega nat seolgimanhae

Neomu chakhan neonde neon geudaeroinde Oh
I don’t know I don’t know
Naega wae ireoneunji

Geutorok saranghaenneunde neon yeogi inneunde Oh

I don’t know
Ije nal chatgo sipeo

Baby I’m sorry neowa isseodo nan lonely
Saranghagin naega bujokhanga bwa
Ireon motnan nal yongseohae

I’m sorry ige neowa naui story
Sarangiran naegen gwabunhanga bwa
Ne gyeote isseodo

Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

Nega jalmotan ge anya
Naega isanghan geoya
Imi orae jeonbuteo nan junbi haenna bwa ibyeoreul

Jeongmal jalhaejugo sipeonneunde
Hapil sarang apeseoneun wae
Ireoke haneobsi jagajigo oerounji

Neomu chakhan neonde neon geudaeroinde Oh

I don’t know I don’t know
Naega wae ireoneunji

Geutorok saranghaenneunde neon yeogi inneunde Oh

I don’t know
Ije nal chatgo sipeo

Baby I’m sorry neowa isseodo nan lonely
Saranghagin naega bujokhanga bwa
Ireon motnan nal yongseohae

I’m sorry ige neowa naui story
Sarangiran naegen gwabunhanga bwa
Ne gyeote isseodo

Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

Aku terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa. Lagu ini.. Aku sangat suka lagu ini. Mungkin dia juga menyukainya. Lagu ini benar-benar menggambarkan perasaanku.

Dan dia.. menyanyikan lagu ini dengan lembut.

Aku menatap yeoja itu dengan nanar. Dia sedang memetik senar gitarnya.

Dan disaat itu juga aku melihat.. darah mengalir dari hidungnya. Seketika itu juga aku tersentak dan ingin menghampirinya. Tapi aku tidak bisa. Rasanya aku membeku di tempat. Aku cuma bisa memperhatikannya dari balik semak. Ia kelihatannya juga terkejut. Lalu ia mengeluarkan sapu tangan dari tas-nya.

Sapu tangan itu dengan cepat berubah warna menjadi merah darah. Sepertinya sapu tangan itu tidak akan cukup menampung. Ku lepas kemeja biru-ku. Aku masih ragu untuk menghampirinya atau tidak. Tapi.. ini demi kebaikannya juga..

HYORI POV

Aigo.. Kenapa bisa? Ku rasa sapu tangan ini tidak akan cukup menampung semuanya. Ya tuhan tolong aku~

Ku pejamkan mataku sejenak untuk menenangkan pikiranku.

Setelah ku buka kembali mataku ku dapati seorang namja tengah duduk di depanku. Aku terkejut mendapati kehadiran namja ini.

Namja ini kemudian mengambil sapu tanganku lalu memberikan kemejanya padaku.

“Pakailah. Sapu tanganmu tak kan cukup untuk menampung semuanya”

Aku pun mengangguk lalu menempelkan kemeja tersebut di hidungku.

Namja ini masih memperhatikanku. Sorot matanya terlihat iba melihatku.

“Apa kita ke rumah sakit saja?” tanya namja itu kemudian.

Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil. Ku lihat kemeja yang kini tengah ku pegang. Kemeja itu dengan cepat berubah warna menjadi merah darah.

Ku tatap namja di depanku, dia berdiri dan aku pun mengikutinya.

Tiba-tiba saja aku merasa kepalaku terasa begitu berat. Pandanganku semakin buram. Dan keseimbangan badanku hilang. Saat itu lah aku merasa namja itu berteriak.

~~~~~~~~~~~~~~

Mataku mulai terbuka. Kepalaku masih terasa sangat pusing. Aku pun menutup mataku kembali hingga aku merasa benar-benar sudah tidak pusing. Aku yakin sekarang aku sedang berada di rumah sakit. Kenapa aku yakin? Karena aku sudah terbiasa dengan suasana rumah sakit.

Aku pun berusaha untuk duduk dengan memaksakan badanku.

“Kalau kau tidak bisa jangan dipaksakan. Itu sama saja kau menyakiti dirimu sendiri”

Aku tertegun lalu mencari asal suara. Suara itu suara namja yang tadi. Ia sedang duduk di sofa sambil memegang sehelai kertas.

“Tenang saja. Aku baik-baik saja” jawabku tenang.

“Baik-baik saja? Apa kau yakin?” tanya namja itu dengan tatapan nanar.

“Ku rasa begitu. Hmm mianhae, aku lupa—”

“Kyuhyun” jawab Kyuhyun tanpa menunggu Hyori menyelesaikan ucapannya.

“Oh ya. Kyuhyun” Hyori mengangguk.

AUTHOR POV

Kyuhyun menghela nafas dengan berat. Ia memandangi kertas yang sedari tadi ia genggam. Kertas hasil pemeriksaan yeoja yang bernama Hyori. Kyuhyun menelan ludah. Penyakit Hyori semakin parah, kankernya yang semula hanya stadium 1 naik menjadi 2.

Sungguh malang yeoja ini. Batin Kyuhyun sambil kembali menatap Hyori.

“Bolehkah aku pinjam handphone-mu?” tanya Hyori tiba-tiba.

“Untuk apa?” jawab Kyuhyun sambil merogoh saku-nya.

“Hmm aku ingin mengabari appa-ku bahwa aku sedang disini” tutur Hyori.

Kyuhyun mengerti lalu memberikan handphone-nya pada Hyori. Hyori menerima handphone Kyuhyun lalu mulai memasukkan nomor yang sudah ia hafal ke dalam handphone Kyuhyun. Hyori menempelkan handphone Kyuhyun ke telinganya. Mata Hyori lalu tertuju pada Kyuhyun. Seakan mengerti maksud yeoja itu, Kyuhyun pun menjauh dan berjalan menuju jendela.

Kyuhyun pun memandang ke luar jendela. Sayup-sayup ia masih bisa mendengar percakapan antara Hyori melalui telfon.

“Appa.. Sekarang aku sedang berada di rumah sakit. Bisakah kau datang kesini?”

“Hmm appa sendiri pasti tau kan apa yang terjadi jika aku sudah masuk rumah sakit?”

“Jangan panik begitu appa. Aku baik-baik saja. Tadi aku sangat beruntung karena ada temanku yang menolong. Jika dia tidak ada aku tidak tau apa yang akan terjadi”

“Aku yakin aku baik-baik saja. Jangan berlebihan begitu appa”

“Baiklah. Ku tunggu appa sekarang juga”

Percakapan melalui telfon itupun usai. Kyuhyun terdiam. Antara sadar dan tidak sadar.

Apa yang akan terjadi jika aku tidak ada tadi? Batin Kyuhyun kembali berbicara.

Kyuhyun yang sedang sibuk dengan pikirannya tidak sadar bahwa Hyori sedang menatapnya dalam. Entah tatapan kagum atau apa. Hanya saja.. posisi Kyuhyun yang berada di depan jendela, sosoknya yang dingin terkena cahaya matahari menimbulkan sosok yang dingin namun hangat serta misterius. Kombinasi yang benar-benar membuat Hyori suka.

Kyuhyun pun berbalik dan mendapati Hyori sedang memperhatikannya. Kyuhyun menjadi salah tingkah, begitu pun Hyori.

“I.. ini handphonemu. Gamsahamnida~” tutur Hyori sambil memberikan handphone Kyuhyun.

“Gwen.. gwenchana” jawab Kyuhyun dengan gugup. “Tidak usah se-formal itu padaku”

Kyuhyun yang gugup pun malu untuk menatap Hyori, Hyori hanya tersipu malu dengan sikap Kyuhyun.

Tak ku sangka murid bermasalah seperti dia ternyata bisa gugup juga. Batin Hyori dan rona kemerahan pun timbul di pipi-nya.

Kyuhyun yang melihat rona pada wajah Hyori langsung terpesona. Namun, tiba-tiba ia mendengar ketukan pintu dari luar. Kyuhyun pun berjalan menuju pintu dan membukakannya.

“Mana anakku? Apa dia baik-baik saja?!” tanya seorang ahjussi yang kelihatan panik. Kyuhyun pun menunjuk Hyori. Ahjussi itu pun segera beranjak menuju tempat Hyori berada.

“Appa sudah datang” tutur Hyori dengan senyum merekah di bibirnya.

“Nde. Appa datang. Appa tidak mau lagi meninggalkanmu lagi” ujar appa sambil memeluk erat Hyori.

Kyuhyun hanya tersenyum melihat ekspresi Hyori yang bingung saat dipeluk appa-nya. Dan mata mereka pun bertemu. Kyuhyun pun langsung buang muka dan pura-pura tidak melihat.

Hyori menggigit bibir bawahnya menahan tawa karena sikap Kyuhyun.

~~~~~~~~~~~

“Aku sangat berterimakasih padamu karena sudah menolong anak semata wayangku. Namaku Minyeol Kim. Apa yang bisa ku lakukan untukmu?” ujar appa Hyori.

Kini Kyuhyun dan appa Hyori sedang berbincang. Sedangkan Hyori sedang tidur pulas.

“Gwenchanayo ahjussi. Kebetulan dia teman sekelasku, dan aku tidak sengaja bertemu dengannya di taman” tutur Kyuhyun sopan.

“Kau teman sekelas Hyori?” tanya appa Kyuhyun tidak percaya.

“Nde. Ada apa ahjussi?” Kyuhyun jadi salah tingkah.

“Hmm aniya. Aku menduga kalau kalian itu deman baik. Benarkah? Aku ingin kau menjaga Hyori. Kalau begitu mohon bantuannya” ujar appa Hyori sambil membungkukkan badannya.

Kyuhyun semakin salah tingkah. Ia juga merasa tidak enak karena tindakan appa Hyori. “Eh, jangan begitu ahjussi. Nde, aku akan menjaga Hyori. Oh ya ahjussi, ada sesuatu yang ingin aku berikan”

Kyuhyun menarik nafas dalam lalu memberikan secarik kertas. Ya, itu kertas hasil pemeriksaan Hyori. Appa Hyori pun menerima-nya. Setelah beberapa menit membaca, appa Hyori pun menjadi lemas. Kyuhyun sudah menduga akan begini. Kyuhyun hanya menghembus nafas pelan.

Bisa dibayangkan apa yang dirasakan appa Hyori sekarang. Antara sedih, bingung, dan tidak tau harus bagaimana. Kondisi yang sulit.

Appa Hyori menunduk lalu memijit pelipisnya yang terasa nyeri.

“Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan. Aku tidak mau meninggalkan Hyori, tapi dilain sisi aku juga harus bekerja. Aku akan pindah ke Tokyo selama setahun untuk membuka cabang baru perusahaanku. Rencananya aku ingin membawa Hyori, namun melihat kondisi Hyori kini yang semakin lemah aku pikir aku tidak akan bisa pergi ke Tokyo.” tutur ahjussi dengan lesu.

Seandainya aku bisa membantu..

“Bagaimana jika Hyori tinggal denganku selama ahjussi berada di Tokyo? Aku berjanji akan menjaganya dengan baik” pinta Kyuhyun dengan mantap. Entah apa yang difikirkan Kyuhyun. Tapi ia tau ia tidak akan menyesal mengambil keputusan ini.

Appa Hyori terkejut mendengar permintaan anak muda di depannya. Namun appa Hyori melihat wajah tulus dari wajah Kyuhyun.

Sepertinya ia bisa dipercaya

Kyuhyun melihat keraguan dalam diri appa Hyori. Namun, kemudian appa Hyori tersenyum. Senyum yang sulit diartikan apa artinya.

“Baiklah. Aku setuju karena ku pikir kau bisa dipercaya”

Senyum merekah pun muncul dari bibir Kyuhyun. “Jeongmal gamsahamnida ahjussi~ Aku akan pegang janjiku dan tidak akan mengecewakanmu”

“Tapi.. jika penyakitnya kambuh kau harus menghubungiku. Kapanpun!” perintah appa Hyori serius. Kyuhyun mengangguk mengerti lalu menoleh ke arah yeoja yang sedang tertidur pulas. Senyum Kyuhyun semakin mengembang..

-TBC-

Thank You (Part 1)

•Agustus 28, 2011 • 4 Komentar

Annyeong readers! Author balik gapapa kan?-..- Yaudah author gamau terlalu banyak basa-basi. Ini part 1 dari ff Thank You. Yang belum baca prolog mohon dibaca ya –> Prolog. Enjoy & Happy reading!! ^^

~~~~~~~~~~~

Author: narachikim

Cast: Cho Kyuhyun, Kim Hyori, Krystal Jung, etc.

Genre: Chapter, Romance, Friendship.

~~~~~~~~~~~

Author POV

Seorang yeoja tengah melamun diatas dahan pohon yang rindang. Entah apa yang ia lamunkan tapi sepertinya itu benar-benar membuatnya bingung. Yeoja itu memandang langit dengan lesu. Poni-nya yang tertiup angin membuat dahi-nya terlihat. Yeoja itu pun menghela nafas dengan berat lalu menundukkan kepalanya.

Matanya terpejam dan ia menggigit bibir bawahnya. Kemudian yeoja itu kembali membuka matanya karena ia mendengar seseorang menyorakkan namanya dibawah sana. Yeoja itu pun mengalihkan pandangannya ke bawah dan di dapatinya seorang yeoja cantik berambut panjang.

“Hyori! Ayo turun! Sedang apa kau diatas sana?” tanya yeoja itu menyuruh yeoja bernama Hyori itu turun dari atas pohon. Ya, nama yeoja yang melamun itu Hyori. Kim Hyori.

“Hehehehe. Tidak ada apa-apa. Kau tau kan aku suka melamun diatas pohon?” jawab Hyori lalu turun dari atas pohon. Tidak berapa lama kemudian yeoja berambut panjang se-dada itu sudah menginjakkan kaki-nya di tanah.

“Kau ini selalu saja melamun di atas pohon. Apa yang kau lamunkan? Lihat! Poni-mu berantakan sekali” sahut yeoja itu lalu merapikan poni yeoja bernama Hyori itu. Setelah rapi Hyori pun membelai poni-nya. “Entahlah aku juga tidak tau apa yang aku lamunkan, Krystal”

“Yasudah! Sekarang lebih baik kita kembali ke dalam gedung sekolah. Seperti-nya jam pelajaran yang berikutnya akan segera dimulai” ujar Krystal lalu menarik tangan Hyori.

~~~~~~~~~~

“Sial! Kenapa aku harus dipindah kemari? Percuma saja, aku tidak akan berubah! Paboya” sahut seorang namja sambil menendang batu kecil di sekitarnya.

Namja itu pun sadar ada kerumunan yeoja sedang memperhatikannya. Namja itu menatap kerumunan yeoja itu dengan tatapan tajamnya. Seketika kerumunan yeoja itu berbisik lalu pergi menjauh.

“Dasar aneh” gumam namja itu kemudian.

~~~~~~~~~~

“Hyori, mianhae aku harus ke kamar mandi dulu, kau ke kelas sendiri saja ya? hihihi” pinta Krystal sambil memegangi perutnya. Hyori menatap Krytal dengan aneh “Kau makan apa tadi pagi? Tumben sekali kau buang bom di sekolah”. “Terserah aku saja. Aku harus ke kamar mandi sekarang juga! Sampai jumpa di kelas!!” pamit Krystal lalu berlari meninggalkan Hyori.

Hyori pun kembali berjalan menuju kelas. Lalu, ia mendengar dua orang yeoja sedang mengobrol.

“Ada anak baru. Ku dengar dia murid bermasalah” sahut salah satu dari yeoja itu.

“Benarkah? Sayang sekali padahal dia tampan ya” jawab yeoja yang satu lagi. Raut kecewa terlihat jelas diwajahnya.

Yeoja pertama tadi pun memukul kepala temannya itu dengan gulungan kertas “Huh kau ini selalu saja begitu. Menyebalkan”. 2 yeoja tadi pun kembali berjalan dan menjauh. Hyori masih memikirkan kata-kata 2 yeoja tadi. “Ada anak baru? Murid bermasalah? Aku baru tau” gumam Hyori dan kembali berjalan menuju kelas.

~~~~~~~~~

Hyori duduk di kelas sendirian. Krystal masih belum kembali. Seonsaengnim juga belum masuk. Hyori pun mengalihkan pandangannya memandang suasana kelas saat ini. Ada Minkyung yang sedang membaca buku, Sunghyo Minji dan Minah yang sibuk mencat kuku mereka, dan masih banyak lagi. Hyori pun menguap dan kembali bermalas-malasan.

Tiba-tiba saja seonsaengnim masuk. Hyori pun sigap duduk lalu mengucek matanya sebentar. Lalu pintu kembali terbuka, Krystal masuk dengan nafas terengah-engah. Sepertinya dia berlarian.

“Mianhae Seonsaengnim, saya terlambat masuk kelas” ujar Krystal lalu membungkukkan badannya.

Seonsaengnim hanya mengangguk “Kali ini saya maafkan. Lain kali jangan terlambat lagi nona Jung”. Krystal pun mengangguk mengerti lalu berjalan ke tempat duduknya yang tepat berada disamping Hyori.

“Kau tau? Tadi aku bertemu seorang namja tampan. Sepertinya dia anak baru” bisik Krystal. Hyori hanya merespon Krystal dengan tatapan tak acuh.

“Baiklah. Saya akan membagikan hasil ulangan kemarin. Bagi nilainya yang dibawah standar silahkan bersiap-siap untuk mengikuti ujian remedial” sahut seonsaengnim kemudian.

Hyori yang awalnya lengah langsung menyimak seonsaengnim. “Jangan harap nilaimu diatas standar nona Kim” ejek Krystal sambil mencibir. “Shireo!!” gumam Hyori sambil meninju pelan lengan Krystal.

Seonsaengnim mulai membagikan kertas ulangan kemarin kepada murid-murid. Hyori melihat raut wajah bahagia di wajah teman-temannya. Hyori berharap dia juga begitu. Seonsaengnim pun semakin dekat dengan kursi Hyori. Hyori semakin merasa tegang. Mulut-nya tidak berhenti bergerak karena dia begitu takut.

“Selamat nona Kim…. nilaimu masih sama seperti dulu. Bersiaplah untuk ujian remedial. Kali ini belajarlah dengan sungguh-sungguh” ujar seonsaengnim.

Hyori pun menghembuskan nafas dengan kecewa. Di raihnya kertas ulangannya, sebuah nilai yang sama sekali tidak diharapkannya. 45. Nilai yang sangat buruk.

Tiba-tiba Krystal menyenggol Hyori, Hyori pun menatap temannya itu “nilaimu berapa?” tanya yeoja bermarga Jung itu. Hyori mendelik dan kembali bermalas-malasan di mejanya.

14.00 KST

Hyori berjalan sendirian di koridor sekolah. Krystal ada keperluan sehingga Hyori terpaksa pulang sendirian. Tangan Hyori masih meraih kertas ulangannya. Hyori masih berfikir. Ia tau ia lemah dalam bidang matematika. Tapi sampai kapan ia harus lemah dalam bidang ini? Adakah seseorang yang bisa membuatnya menyukai matematika?

BRUK

Hyori tidak sengaja menabrak seseorang ketika ia berjalan. Karena badannya lemah, ia pun terjatuh. Kacamata Hyori melorot ke pipinya. Kertas ulangannya terlepas dari genggaman tangannya. Hyori pun mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang dia tabrak. Ternyata seorang namja. Tapi Hyori merasa baru kali ini melihatnya. Apakah dia anak baru tersebut?

“Kalau jalan lihat-lihat bodoh!” maki namja itu pada Hyori. Hyori pun merapikan kacamata-nya lalu berdiri dan membersihkan debu di rok-nya kemudian menatap namja itu dengan pandangan polos. “Kenapa aku yang harus minta maaf? Kau saja berjalan masih tidak becus” jawab Hyori lalu meninggalkan namja itu yang berdiri terdiam.

Hyori yang kesal pun berjalan menjauh. Namun, ia merasa badannya terasa amat sangat berat. Pandangannya buram sejenak. Hyori pun mengerjapkan matanya beberapa kali. Tapi tetap saja pandangannya buram. Walaupun setengah sadar namun Hyori masih bisa mengambil handphone-nya di dalam saku-nya. Di masukkannya angka-angka yang sudah begitu dia hafal. Lalu di tempelkannya handphone-nya di daun telinganya.

“Yoboseyo, Hyori. Ada apa?” jawab seseorang di ujung sana. Tiba-tiba saja Hyori kesulitan bernafas. Dada-nya naik turun karena kesulitan untuk bernafas.

“Hyori? Apa kau disana?” tanya suara itu lagi.

“Cepatlah.. cepatlah datang kesini appa.. Aku sudah tidak tahan.. uhuk uhuk..” keseimbangan badan Hyori pun semakin melemah, ia pun terjatuh ke lantai..

Saat ini di dalam hati, Hyori hanya bisa berharap datangnya keajaiban. Tapi kelihatannya sangat tidak mungkin. Darah pun mulai menetes melalui mulut Hyori. Dengan perlahan Hyori pun menutup kedua matanya.

~~~~~~~~~

“Hey! Kau anak baru yang bernama Kyuhyun itu, bukan?” tegur seorang seonsaengnim kepada namja yang bernama Kyuhyun itu. Kyuhyun yang sedang merokok pun menatap seongsaengnim tersebut dengan tatapan sinis. Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan seonsaengnim itu, ia terus menghisap rokok yang ada di sela jarinya.

Seonsaengnim itu pun kesal lalu menarik kerah seragam Kyuhyun dengan kasar “Jangan macam-macam kau! Kau anak baru! Kau harus mematuhi aturan disini! Buang rokokmu itu dan jawab pertanyaanku!” perintah seonsaengnim itu dan sedikit melepas genggaman tangannya di kerah seragam Kyuhyun.

Kyuhyun makin menyipitkan matanya lalu menghisap rokok sekali lagi, dengan santai ia hembuskan asap rokok tersebut ke wajah seonsaengnim itu. “Tak usah cemas, Pak Tua. Aku tidak akan bertahan lama disini. Tidak lama lagi aku tidak akan ada disini lagi” ujar Kyuhyun dingin sembari melepaskan genggaman tangan seonsaengnim itu dari kerah seragamnya. Seonsaengnim itu spontan terbatuk dan ia sesak nafas karena asap rokok yang diberikan Kyuhyun tadi. Kyuhyun pun menatap seonsaengnim tersebut sambil tersenyum licik lalu merapikan kerah bajunya, kemudian dia pergi meninggalkan seonsaengnim yang malang tersebut sambil mengambil batang rokok baru.

Kyuhyun kembali melewati koridor dimana seorang yeoja menabraknya tadi. Pikiran Kyuhyun langsung melayang kepada yeoja yang menabraknya tadi. Ia masih ingat kacamata yeoja itu melorot ke pipi-nya, wajahnya yang polos saat ia memandang wajah Kyuhyun, dia yang marah karena dibentak. Kyuhyun tersenyum tipis sesaat sambil menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia melihat sebuah kertas. Kyuhyun pun meraih kertas tersebut dan mengamatinya. “Kim Hyori. Ulangan matematika mendapat nilai 45” gumam Kyuhyun dengan lambat.

Kyuhyun POV

Apakah yeoja yang ku tabrak tadi bernama Hyori?

Aku pun mengingat kembali kejadian saat yeoja itu menabrakku. Saat itu aku sedang tidak memperhatikan jalan. Tapi rasanya saat yeoja itu menabrakku, ia menggenggam sebuah kertas. Saat ia terjatuh kertas itu terlepas dari genggaman tangannya. Apakah iya?

Aku pun kembali berjalan sambil mengingat kembali kejadian tadi.

JLEB

Rasanya aku menginjak sesuatu. Ku tundukkan kepalaku dan ku dapati kakiku yang tengah menginjak darah.

Sontak aku pun mundur dan menjauh. Astaga.. kenapa bisa ada darah?

Lalu, mataku tertuju pada kacamata yang tergeletak di lantai. Aku pun meraih kacamata tersebut. Lagi-lagi aku teringat kejadian tadi. Kacamata ini.. bukankah milik yeoja itu? Kenapa bisa ada disini?

Astaga.. membingungkan sekali. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku jadi peduli kepada yeoja itu? Kenal saja tidak! Lupakan Kyuhyun! Kau tidak ada hubungannya dengan yeoja itu!

Hyori POV

Gelap.. Aku tidak bisa melihat apapun..

Aku dimana? Apakah aku sudah mati?

Tuhan.. aku dimana?

~~~~~~~~~~

Aku tidak tau kini aku sedang dimana. Yang pasti disini gelap sekali. Tidak ada tanda-tanda adanya cahaya. Aku bingung harus bagaimana. Ingin berlari tapi aku tidak tau kemana harus berlari.

Ku coba untuk melangkahkan kakiku dengan perlahan. Saat kakiku kembali menyentuh tanah, tiba-tiba saja tanah yang ku pijaki terdapat berlian yang tengah berkilau. Berlian itu membuat keadaan yang semula gelap, kini tidak begitu gelap. Aku pun kembali melangkahkan kakiku. Tiap pijakan yang ku buat, timbul berlian yang berkilauan. Sehingga, tempat itu menjadi terang benderang.

Kemudian, mataku tiba-tiba saja merasa silau. Ku halang wajahku dengan tanganku. Saat sudah tidak silau lagi, ku turunkan kedua tanganku dan ku dapati seorang lelaki tengah berdiri di hadapanku sambil tersenyum.

Aku terdiam melihat senyum itu. Senyuman terhangat yang pernah kurasakan.

“Kau siapa?”

Lelaki itu tidak menjawab, ia hanya mengulurkan tangannya. Ku tatap wajahnya. Wajahnya seakan mengatakan ‘kau ingin ikut denganku?’.

Author POV

Ruang operasi itu kini tengah dikerumuni oleh para dokter yang sedang berusaha menyelamatkan pasiennya dari maut. Di luar ruang operasi itu terlihat seorang ayah yang sedang memandangi proses operasi dengan tatapan sedih. Ayah mana yang tidak sedih melihat anaknya sendiri sedang berada di antara hidup dan mati?

Salah satu dokter memperhatikan alat detak jantung sang pasien. Detak jantung pasien itu semakin melemah. Dokter itu pun memberi isyarat kepada dokter yang lainnya agar memberi bantuan alat pacu jantung kepada pasien itu..

Hyori POV

Lelaki ini masih mengulurkan tangannya ke arahku. Dia siapa? Apakah aku mengenalnya? Aku merasa bahwa aku tau siapa dia, tapi aku tidak mengenal siapa dia.

Walaupun ragu, namun aku meraih tangan namja itu. Dia tersenyum. Senyum yang sulit untuk diartikan. Kemudian, ia membawa ku keluar dari tempat itu..

Author POV

Para dokter menarik nafas lega karena detak jantung pasien yang mereka tadinya melemah drastis kini telah berdetak dengan normal kembali. Benar-benar luar biasa.

“Aku cemas sekali. Jantung yeoja ini hampir berhenti berdetak tadi. Untung saja sekarang keadaan detak jantungnya sudah normal.” ujar salah dokter kepada dokter yang lainnya. Dokter lainnya hanya mengangguk setuju.

Hyori POV

Kini aku tidak entah berada dimana. Namja yang kini mengenggam tanganku ini sudah membawaku kemari.

“Kau telah ku selamatkan kali ini. Hyori-ya, bersemangatlah dalam menjalani hari-harimu walau kematianmu bisa datang kapan saja tanpa memikirkan waktu dan tempat. Ingatlah kata-kataku ini. Jangan kau sia-sia kan waktumu nanti. Gunakanlah waktumu itu selagi bisa.” ujar namja itu tanpa memandang wajahku. Wajahnya terlihat serius.

Aku hanya mengerutkan keningku karena tidak mengerti maksud dari namja ini. Namja itu kemudian menatap mataku dalam. Aku terpaku diam karena tatapan mata namja itu.

“Berjanjilah padaku” kata namja itu sambil mengulurkan kelingkingnya padaku.

“Berjanji untuk apa?” jawabku kebingungan.

“Berjanjilah untukku” ucapnya misterius.

Aku tidak mengerti dengan apa yang dia bicarakan. Tapi, lebih baik aku tidak usah bertanya banyak.

Ku kaitkan jari kelingkingku di jari kelingking namja itu. “Terserah kau saja”.

Namja itu pun tersenyum hangat lalu mengelus rambutku pelan. “Baiklah. Tepati janjimu”.

~~~~~~~~~

Tiba-tiba saja semuanya menghilang. Kini pandanganku tertuju ke depan. Yang ada hanya dinding berwarna biru laut. Ku gerakkan tanganku perlahan. Aku baru menyadari tanganku tengah di infus. Dan aku juga menggunakan alat bantu pernafasan.

Ku tatap langit-langit kamar. Mataku masih belum stabil. Terkadang tatapan mataku mendadak kabur dan jelas.

“Hyori-ya? Kau sudah sadar?” suara yang sudah sangat ku kenal terdengar di telingaku. Ku tolehkan kepalaku dengan perlahan mencari asal suara tersebut. Seorang lelaki berumur 40-an tengah berdiri di depan pintu sambil tersenyum kepadaku.

Seulas senyum mengembang di bibirku melihat appa-ku. Appa pun berjalan mendekatiku. Senyuman terus menghiasi sudut bibir appa. Senyum kebahagiaan.

“Appa benar-benar bahagia mendengar kau selamat. Padahal tadi jantungmu sempat berhenti berdetak” terang appa sambil menggenggam tanganku dengan perlahan. Genggaman tangan appa yang lembut seakan-akan takut menyakitiku.

Tiba-tiba saja air mata appa meleleh dan jatuh di tanganku. “Kenapa harus kau yang terkena penyakit turunan itu? Kenapa tidak appa saja? Masa depanmu masih panjang. Sangat disayangkan penyakit turunan dari halmeoni-mu itu menurun kepadamu”.

“Itu sudah takdir yang diberikan Tuhan kepadaku appa. Semua yang diberikan Tuhan kepadaku adalah yang terbaik untukku. Tidak ada yang perlu appa sesali. Jika sudah datang waktunya, itu memang saatnya aku untuk pergi” tuturku sembari mengusap pipi appa yang basah karena air mata.

2 minggu kemudian~

“Jangan terlalu memaksakan dirimu nanti. Appa tidak mau penyakitmu kambuh lagi” ujar appa menasehatiku. Sebuah anggukan aku berikan sebagai jawaban. Kemudian ku buka pintu mobil dan aku pun melompat keluar. Ku pandangi suasana yang sudah 2 minggu aku tinggalkan. Ku hembuskan nafasku sejenak lalu ku langkahkan kakiku masuk ke dalam sekolah.

“Hyori-ah!!!” seru seorang yeoja di belakangku. Ku balikkan badanku dan ku dapati seorang yeoja yang tidak lain adalah Krystal tengah berlari ke arahku. Ku lambaikan tanganku padanya. Setelah berada di depanku Krystal seakan ingin mengatakan sesuatu, namun terhenti karena nafasnya masih terengah-engah. Ia pun mengarahkan jari telunjuknya kepadaku seakan meminta waktu untuknya bernafas.

Saat kondisi nafasnya membaik. Tiba-tiba saja wajahnya tidak menunjukkan sebuah ekspresi. Wajahnya datar seperti mayat hidup. “Kau kenapa?” tanyaku. Krystal masih tidak menjawab. Ku putar bola mataku dan aku pun membalikkan arah badanku seakan ingin meninggalkannya.

“Kyaaa!! Hyori-ya!!! Aku sangat merindukanmu!! Akhirnya kau mulai sekolah lagi!!! Kau tau? Aku kesepian saat kau tidak ada! Lain kali kau tidak boleh sakit lagi!” pekik Krystal sambil memelukku erat. Aku hanya tersenyum melihat tingkah temanku ini.

“Jangan membuatku malu dihari pertama aku sekolah, Stal-ah” ujarku dingin.

“Aku tidak peduli!” jawab Krystal mencibir.

~~~~~~~~~~

Kyuhyun POV

Aneh sekali. Terakhir aku melihat yeoja itu 2 minggu yang lalu. Sampai sekarang dia tidak pernah terlihat. Apa yeoja itu hantu? Hah? Bodoh kau, Kyu! Tidak mungkin!

Ku tendang sebuah kaleng yang tepat berada di depan kakiku. Kaleng itu terlempar jauh lalu terdengar suara bising yang ditimbulkan oleh kaleng tadi.

“Bisakah kau tidak membuat suara bising? Mengganggu saja!” gerutu seseorang kepadaku.

Siapa itu? Rasanya aku pernah mendengar suara itu.

Ku cari-cari asal suara itu berasal. Tapi nihil. Aku tidak menemukan siapapun. Apa tadi itu hantu yang sedang menggangguku? Errr jangan bodoh! Mana ada yang namanya hantu!

“Kau sedang bolos ya?” suara itu kembali muncul.

Tidak ku jawab pertanyaan itu. Ku balikkan badanku dan ku dapati seorang yeoja sedang menulis di sebuah kursi. Mataku terbelalak karena yeoja itu adalah yeoja itu adalah yeoja yang menabrakku 2 minggu yang lalu.

“Kau sedang bolos ya?” ulang yeoja itu tanpa memandangku.

“Bukan urusanmu. Kau sendiri sedang bolos jam pelajaran olah raga kan? Cih. Tidak ku sangka yeoja sepertimu juga bolos”

“Aku? Bolos? Tidak juga. Aku tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran olahraga. Jadi sebagai gantinya aku diminta seonsaengnim untuk membuat sketsa lapangan bola” jawab yeoja itu sambil mengacungkan sebuah kertas yang sudah pasti sketsa seperti yang dia bilang barusan.

“Oh baiklah. Tapi kenapa kau tidak diperbolehkan untuk mengikuti pelajaran olahraga?” tanyaku penasaran. Lalu aku pun ikut duduk disamping yeoja itu.

Yeoja itu diam sejenak. Wajahnya berubah menjadi sedih. Apa aku salah berbicara? Ku rasa tidak.

Terdengar suara hembusan nafas dari yeoja itu. Mungkin dia merasa keberatan untuk bercerita kepadaku. “Kalau kau tidak mau mengatakannya padaku tidak apa-apa. Aku mengerti” ujarku lalu berdiri.

“Tunggu!” pinta yeoja itu. Ku tatap wajah yeoja itu. Ia menatap kosong tanah dengan tatapan yang sangat sendu. Aku merasa iba melihatnya. Sepertinya ia memiliki hidup yang berat, sama sepertiku.

Aku kembali duduk disamping yeoja itu. Dengan sabar ku tunggu sampai dia mau bercerita.

“Aku… aku memiliki hidup yang berat. Aku tidak sama sepertimu. Aku tidak sama seperti Krystal. Aku tidak sama seperti teman-teman yang lainnya. Mereka normal. Tidak ada penyakit yang menggerogoti tubuh mereka. Mereka bisa melakukan apa pun sesuka hati mereka. Tidak ada larangan untuk mereka. Mereka memiliki banyak harapan untuk menatap masa depan mereka dengan cerah. Sedangkan aku? Aku harus berjuang untuk hidup. Aku hanya bisa duduk melihat mereka. Aku iri melihat mereka. Walaupun aku mencoba untuk selalu tegar. Tapi percuma, selalu ada rasa sesal dan sedih yang datang kepadaku. Dan aku tidak bisa melihat masa depanku kelak. Hidupku tidak akan lama. Kau tau? Terkadang aku bingung melihat orang-orang yang berharap Tuhan mengambil nyawanya. Sedangkan masih banyak orang lain yang berharap untuk tetap bisa hidup…”

Sontak aku tersentak. Yeoja ini.. bertolak belakang denganku. Aku selalu berharap untuk segera mati. Hanya karena masa lalu yang selalu membayangiku. Aku sadar. Selama ini masih banyak orang-orang yang berharap untuk tetap hidup. Termasuk yeoja di sampingku ini. Ya. Sekarang aku mulai sedikit mengerti.

“Kau.. sakit apa?” tanyaku dengan hati-hati.

“Kanker hati” gumamnya pelan.

Aku tidak bertanya lagi. Sebajingan diriku namun aku masih memiliki hati. Dan kali ini hatiku sedikit terbuka karena yeoja ini.

“Cho Kyuhyun imnida” ujarku kemudian.

“Kau yakin ingin berteman dengan orang penyakitan sepertiku?” tanyanya.

“Memangnya kenapa?”

“Tidak ada yang mau berteman dengan orang penyakitan. Kecuali Krystal” jawabnya sedih.

“Aku yakin. Tidak ada yang salah dengan orang penyakitan.”

Author POV

“Stal-ah, jangan diam saja! Jawab eomma”

Krystal hanya diam mematung. Suara eomma-nya masih terdengar di sebrang sana. Kenapa eomma memberi tau-nya sekarang? Kenapa mendadak? Aku tidak mungkin pergi. Siapa yang akan menjaga Hyori?

“Stal-ah! Jawab eomma” sahut eomma Krystal dengan kesal.

“Tidak bisakah kita bicarakan dirumah saja, eomma-ya? Aku sedang sibuk!” ujar Krystal lalu memutuskan sambungan telepon.

“Krystal Jung! Sekarang giliranmu untuk melakukan lari estafet! Bergegaslah cepat!” panggil seonsaengnim tiba-tiba. Krystal pun mengangguk mengerti lalu bergegas menuju lapangan pacu.

“Tuhan.. apa yang harus ku lakukan…” gumam Krystal pelan.

20.00 KST

“Eomma tidak bisa seenaknya mengubah jadwal kepindahan kita! Sekolahku hanya tinggal beberapa bulan lagi! Tidak bisakah eomma menunggu sampai sekolahku selesai?” ujar Krystal kepada eomma-nya.

“Tidak bisa, Stal-ah! Ini sudah keputusan eomma! Eomma sudah mengurus urusan kepindahanmu. Kita akan pindah ke Los Angeles. Lusa kita akan berangkat. Jangan membantah lagi!” bentak eomma Krystal.

Krystal ingin menjawab namun Jessica menghampiri Krystal dan menggelengkan kepala pertanda untuk tidak membantah lagi.

“Tapi Sica eonnie? Aish” kesal Krystal.

“Mianhae, Stal-ah. Eonnie tidak bisa membantumu sama sekali. Eonnie tidak bisa membantah kepada eomma” ujar Jessica lalu mengelus pelan bahu Krystal.

“Eonnie-ya, bisakah aku meminta tolong padamu?” pinta Krystal.

“Apapun akan ku lakukan untukmu” jawab Jessica lembut.

~~~~~~~~~~

Kyuhyun kini tengah duduk di tangga sekolah. Ia masih bingung dengan keputusannya. Di tangannya terdapat selembar kertas. “Seharusnya aku sudah tau dimana kelasku” gumam Kyuhyun pelan.

Suasana sekolah di pagi hari yang sudah lama tidak ia rasakan. Kyuhyun menghembus nafas pelan. Ia pun menyimpan kertas tersebut ke dalam sakunya. Lalu ia pun berkeliling mencari dimana kelasnya berada.

~~~~~~~~~~~

Hyori duduk di kelas dengan gelisah. Ia bingung. Krystal tidak juga muncul. Apa dia terlambat? Tidak mungkin. Hyori pun mengetuk meja dengan jari-jarinya. “Stal-ah.. kenapa belum datang?” gumam Hyori.

KRIIIIIINNGGG~

Bunyi bel pertanda jam pelajaran pertama pun dimulai. Seonsaengnim pun masuk ke dalam kelas.

“Selamat pagi semuanya. Di pagi hari ini kita akan mempelajari—”

TOK TOK TOK

Kata-kata seonsaengnim terputus karena suara ketukan pintu tersebut. “Tuhan, siapa lagi ini?” gerutu seonsaengnim.

“Semoga saja Krystal!” gumam Hyori pelan.

Pintu kelas pun terbuka. Seorang namja tinggi sedang berdiri dan mengamati isi kelas. Tatapan mata namja itu tidak sengaja bertatapan dengan mata Hyori. Hyori pun langsung mengalihkan pandangannya. Sedangkan namja itu masih menyapu isi kelas dengan tatapannya yang dingin.

“Apakah ini kelas 12B?” tanya namja itu kemudian.

“Ne. Ada apa? Kau salah masuk kelas?” tanya seonsaengnim dengan nada kesal.

“Aniyo. Berarti ini kelasku. Annyeong” ujar namja itu kemudian.

“Kau anak baru itu? Oh terserahlah. Duduk saja dimana kau suka” perintah seonsaengnim dengan malas.

“Kau tidak mau memperkenalkan diriku dulu?” tanya namja itu dengan polosnya.

“Arra. Silahkan perkenalkan dirimu”

“Ah tidak usah. Aku ingin langsung duduk saja” jawab namja itu dan masuk ke dalam kelas. Namja itu duduk di paling belakang di samping jendela.

Seonsaengnim hanya menggeleng. “Siapa namamu?” tanya seonsaengnim kemudian.

“Cho Kyuhyun”.

~~~~~~~~~~

“Tidak ku sangka kalau kita sekelas” ujar Kyuhyun memulai pembicaraan.

Sedangkan orang yang Kyuhyun ajak berbicara hanya menatapnya dingin lalu membaca buku yang ada di hadapannya.

“Bagaimana pendapatmu? Oh ya, kita belum berkenalan”

“Kim Hyori imnida. Namamu Cho Kyuhyun kan? Aku sudah tau. Dan kita sudah berkenalan sekarang” Hyori menutup bukunya lalu memasukkan buku tersebut ke dalam tas.

“Kim Hyori? Namamu sama persis dengan nama orang yang kehilangan lembaran jawaban ulangan matematika yang aku temukan 2 minggu yang lalu”

Hyori terdiam sesaat karena mendengar ucapan Kyuhyun barusan. Hyori pun langsung mengaduk isi tas-nya mencari lembaran jawaban ulangan matematika-nya. Hyori sudah menumpahkan isi tasnya di atas meja dan tetap saja sama. Kertas itu tidak ada. Apa kertas itu ditemukan oleh Kyuhyun. Omo! Jangan sampai!!!

“Kau mencari apa?” tanya Kyuhyun penasaran.

“Ah.. Aniyo hehehehe” jawab Hyori cengengesan. Ia tidak mau Kyuhyun tau kalau dia kehilangan kertas ulangannya. Pasti dia akan meledek. Tentu saja! Nilai-nya buruk sekali.

Kyuhyun lalu mengeluarkan sesuatu dari saku-nya, “mencari ini?”.

Aigoo. Ternyata memang benar kertas ulangan Hyori. Wajah Hyori pun merah padam seketika.

“Benarkan ini punyamu?” tanya Kyuhyun lagi. Lalu Kyuhyun melihat kertas tersebut. Ekspresi wajahnya berubah.

Mati aku!” batin Hyori dalam hati.

Kyuhyun melipat kertas tersebut lalu meraih tangan Hyori lalu memberikan kertas tersebut kepada Hyori.

“Kita bertolak belakang” ujar Kyuhyun kemudian.

“Apa maksudmu?” tanya Hyori dengan kening berkerut.

“Kau akan tau”.

~~~~~~~~~~

Hyori berjalan keluar dari koridor sekolah sendirian. Tidak ada yang bisa diajaknya pulang bersama-sama. Hyori masih teringat Krystal yang tidak datang ke sekolah.

Kemana anak itu ya?” batin Hyori.

“Hyori!” panggil seseorang dibelakangku. Samar-samar terdengar seperti suara Krystal. Hyori pun membalikkan arah badannya, dan terlihat Jessica eonnie menghampirinya.

“Sica eonnie? Ada apa kemari?” tanya Hyori kebingungan.

“Ya. Aku kesini karena ada urusan dan ada yang ingin aku sampaikan kepadamu” jawab Jessica eonnie.

“Apa yang ingin eonnie sampaikan? Apakah berita buruk?” tanya Hyori cemas.

Jessica eonnie hanya diam. Dia mengelus bahu-ku seakan mengatakan aku harus sabar. Jessica eonnie pun menghirup nafas sejenak. “Krystal akan pindah ke Los Angeles. Eonnie juga. Jadi.. Krystal tidak datang hari ini. Besok dia akan berangkat. Dia sangat sedih meninggalkanmu. Apakah kau mau datang ke bandara besok, Hyori?”

Hyori mematung. Temannya satu-satunya akan pergi meninggalkannya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

-TBC-

Gimana reader? Jeongmal mianhae author telat bgt nge-post ff-nyaa 😦 Dan maaf kalo banyak typo ya._.v

RCL di tunggu^^

Sekalian author juga mau ngucapin “Minal Aidin Walfa’izin” ya reader semua^^

Info!

•Juli 24, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Maaf ya readers semua-nya 😦

Mungkin akhir-akhir ini author jarang banget buat lanjutan ff. Mohon dimaklumi author sekarang lagi sibuk banget. Bukannya mau sok sibuk ya-_- Author kan baru masuk sekolah lagi, dan semenjak sekolah author pulangnya sore dan malamnya kadang harus bikin tugas. Jadi ngga sempat buat lanjutin ff-nya 😦

Dan kadang mood author buat bikin ff suka ancur banget. Makanya author mau refreshing otak dulu biar bisa lanjutin ff lagi~

Insya allah pas puasa kan libur tuh, jadi rencananya author mau isi waktu luang puasa buat ngebayar hutang ff author ke semua readers 🙂 gimana? Gapapa kan?

Buat sementara, author bakal HIATUS dari dunia fanfiction~

So, jeongmal kamsahamnida buat readers yang mau ngertiin author 🙂

Difficult Love (Part 4)

•Juni 29, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Annyeong readers tercinta *wave*

Author gaje balik lagi nih /gapenting

FF ini terinspirasi dari sandiwara(?) yang author lakuin sama temen author.

Jeongmal mianhae kalo author lama banget ngepost ini ff soalnya mood author lagi ugal-ugalan(?)

oke ga usah banyak bacot. . .

~~~~~~~~~

LET’S CEKIDOT!!!!

Author: Kim Eunhyun

Genre: Romance, Comedy (0,1%) etc

Length: Chaptered

~~~~~~~~~

Main cast:

–      Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

–      Lee Jinki a.k.a Onew

–      Kim Eunhyun (so pasti author dong :p /plak)

–      Kim Keybum a.k.a Key

–      Choi Minho a.k.a Minho

–      Lee Taemin a.k.a Taemin

–      Lee Hyerin (ini temennya author lho:D /abaikan)

Other cast:

–      Woo Sunghyun a.k.a Kevin (ini abangnya author lho xD walaupun marganya ga nyambung tapi disambung-sambungin aja /maksa)

–      Shin Dongho

–      Shin Soohyun

–      Choi Jonghun

–      etc

Part sebelumnya: 1 | 2 | 3

P.S: Dianjurkan mendengar lagu Romantic-nya SHINee ketika membaca bagian awalnya 😀

JONGHYUN POV

“mianhae, kita harus bercerai Kim Jonghyun”

Aku tersentak kaget mendengar kalimat yang diucapkan Eunhyun. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia berbicara seperti ini? Anhi anhi! Dia pasti bercanda

“hahahaha!” yang bisa kulakukan sekarang hanyalah tertawa meskipun hatiku merasa cemas.

“kenapa kau tertawa?”

“kau. . . kau tidak sedang bercanda kan?” ucapku memastikan.

“aku tidak bercanda. Aku serius, sangat serius” balasnya menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergetar menahan tangis.

“kumohon hentikan jagiya. Candaanmu mulai tidak lucu. Jebal~”

Tenang Kim Jonghyun. Apa yang dikatakannya itu tidak benar. Kau harus kuat.

“aku tidak sedang bercanda Kim Jonghyun. Aku ini benar-benar serius”

“kumohon hentikan Kim Eunhyun. Jebal~” aku hanya bisa memohon padanya untuk menghentikan ini semua.

“sudah aku bilang AKU SEDANG TIDAK BERCANDA KIM JONGHYUN!!” aku kaget mendengarnya meneriakkan kalimatnya. Kulihat airmatanya mengucur deras dari kedua bola matanya yang indah. Aigo apa dia sungguh-sungguh? Oh tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Kucengkram bahunya dan menatap matanya dalam-dalam. Mencari sebuah kebohongan dimatanya. Tapi aku tidak menemukan sedikitpun kebohongan. Ottokhae?

BRUKK

Aku jatuh terduduk dihadapannya, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kim Jonghyun, hanya sampai disini sajakah nasib pernikahanmu? Kau gagal Kim Jonghyun! Kau gagal menjaga keutuhan rumah tanggamu!

Dengan lemah, aku mencoba untuk bangun dan berdiri dengan tegak.

“katakan alasan kenapa kau meminta cerai dariku?”

Kutarik nafasku berat, bersiap mendengar jawaban yang MUNGKIN akan menyakitkan hatiku.

“aku. . . aku tidak tega melihat Onew oppa selalu menahan cemburu saat aku bersamamu. Dia selalu sakit hati jika kita sedang berdua tanpanya seperti tadi. Aku benar-benar tidak tega padanya. Aku ingin membahagiakannya. Dan ini satu-satunya cara yang harus aku lakukan”

DEG

Aku terkejut mendengar penjelasan darinya. Jadi ini alasannya? Jadi ini yang tadi dia dan Jinki hyung bicarakan? Lee Jinki, kenapa kau setega ini padaku? Kau tega memisahkanku dari yeoja yang sangat kucintai. Dan kenapa kau jadi labil seperti ini Kim Eunhyun?

“apakah tidak ada kesempatan kedua untukku? Kumohon, berikan aku kesempatan kedua nae anae”

Memohon. Hanya itu yang dapat kulakukan sekarang. Apapun yang terjadi, aku harus mempertahankan pernikahanku, Eunhyun dan bayi yang sedang dikandungnya. HARUS! Ayolah Kim Eunhyun, jawab aku~

“sepertinya tidak ada cara lain. Kita memang harus bercerai”

Oke! Sekarang kau sudah benar-benar gagal Kim Jonghyun! Tidak ada kesempatan lagi untukmu. Kau bodoh! Neomu jeongmal paboya Kim Jonghyun!

Aku hanya bisa tertunduk, menyesali perbuatan yang tadi kulakukan. Aigo apa ini? Aku menangis? Kuusap airmata yang mulai mengucur dari mataku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Memohon lagi padanya? ANHI! Tentu saja dia tidak memberiku kesempatan. Mengabulkan permintaan untuk menceraikannya? Andwae! Itu tidak boleh dan tidak akan pernah terjadi! Aku harus melakukan sesuatu agar dia mengubah pendiriannya. Kupeluk tubuhnya yang hangat dan membenamkan kepalaku diantara rambut hitamnya yang panjang. Kuhirup aroma tubuhnya yang MUNGKIN tidak akan bisa kurasakan jika perceraian ini benar-benar terjadi. Aku sudah tidak bisa lagi menahan airmataku. Kutumpahkan semua didalam pelukannya. Kim Eunhyun, jangan pernah meminta cerai dariku. Aku tidak mau kehilanganmu.

“aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu dan juga bayi kita. Aku ingin selalu berada disampingmu. Aku tidak bisa jauh darimu. Apa jadinya bayi ini tanpaku? Aku tidak ingin dia kesepian dan bertanya-tanya siapa ayahnya. Kumohon jangan meminta cerai padaku. Aku tidak sanggup melepaskanmu. Aku terlalu mencintaimu. Jeongmal saranghae Kim Eunhyun”

EUNHYUN POV

Cerai. Betapa berat mengucapkan kata itu. Satu kata yang akan mengubah segalanya. Hidupku, Jonghyun dan Onew. Mungkin mulutku mengatakan aku harus bercerai darinya, tapi hatiku berkata lain. Aigo Kim Jonghyun! Jangan menangis seperti itu. aku jadi tidak tega melihatmu seperti itu. Aku benar-benar tidak rela melepasmu. Aku sudah terlanjur mencintaimu. Aku tidak sanggup untuk melupakan semua kenangan yang pernah kita lalui. Tapi apa boleh buat? Aku merasa sangat bersalah pada Onew. Aku ingin menebus kesalahanku padanya. Hanya cara ini yang bisa kulakukan. Aku teringat akan bayi yang berada didalam rahimku sekarang. Apa jadinya dia kalau aku dan Jonghyun berpisah? Dia pasti akan merasa kesepian dan selalu bertanya “siapa ayahku?” “dimana dia sekarang?””apakah aku bisa bertemu dengannya?”

Membayangkan itu saja sudah membuatku sakit. Apalagi kalau perceraian ini benar-benar terjadi. Apakah aku sanggup hidup tanpa dia disampingku? Apakah aku sanggup melihatnya dengan yeoja lain? Aku benar-benar tidak bisa menahan airmataku. Oh tuhan! Apakah keputusanku ini tidak salah? Hatiku benar-benar tersentuh melihatnya memohon, meminta kesempatan kedua. Kutolak memberikan kesempatan kedua untuknya. Sekarang hatiku benar-benar hancur sekarang. Kim Eunhyun! Kau harus kuat! Apakah aku harus memberikannya kesempatan kedua? Apakah dia mau berjanji untuk menjaga perasaan Onew? Aku benar-benar bimbang sekarang. Aku seperti disuruh memilih antara masuk ke kandang singa dan memberi makan seekor macan. Apakah ini takdirku? Selalu berada diantara 2 pilihan yang sulit dan bertolak belakang? Lebih baik aku mati saja daripada harus berpisah dari Jonghyun selamanya. Selamanya!

HYERIN POV

“oppa, maukah kau menemaniku jalan-jalan?” aku merasa bosan di villa ini. Kuputuskan untuk mengajak Taemin oppa jalan-jalan menikmati indahnya Macau di malam hari.

“dengan senang hati tuan putri” Taemin oppa mulai menggombal lagi-_-

Kuambil jaketku dan menarik lengan Taemin oppa untuk keluar. Ternyata Macau dingin juga pada saat malam. Kami berjalan menyusuri taman yang tidak terlalu jauh dari villa. Kurapatkan jaketku dan memasukkan tanganku kedalam sakunya.  Ternyata malam ini sedang diadakan festival. Pantas saja ramai sekali.

“mau?” Taemin oppa menyodorkan sebungkus gulali sambil tersenyum padaku. Sejak kapan dia membeli gulali ini?

“kau ini melamun saja, makanya aku berlari membelikan sesuatu untukmu”

Dia? Berlari hanya untuk membelikan gulali ini? Aku tahu dia tidak pernah berbohong padaku. Bisa kulihat tetes-tetes air mengalir dari dahinya.

Kuterima benda menyerupai kapas berwarna pink itu dan langsung memasukkanya ke mulutku.

Sembari memakan gulali, kutorehkan pandanganku ke penjuru taman. Mencari-cari tempat duduk karena aku lelah berdiri. Gotcha! Kulihat sepasang bangku kosong berwarna merah. Segera kutarik Taemin oppa yang sedang asik memakan gulalinya dan duduk di bangku itu. Dari sini, aku bisa melihat keindahan kota Macau. Macau indah juga ya? Tidak salah Kevin ahjussi menyuruh kami berbulan madu disini.

TARR TARR PLATZZ

Kudongakkan kepalaku keatas mendengar suara yang begitu familiar untuk telingaku. Kembang api! Ya. Berpuluh-puluh kembang api menghiasi langit kota Macau yang gelap.

“oppa, bintang-bintang itu indah sekali ya?” seruku menunjuk ke langit.

“indah sekali tapi kenapa hanya ada 3 bintang dilangit? Dan kenapa 1 bintang terlihat redup?”

3? Redup? Kenapa perasaanku jadi tidak enak? Atau jangan-jangan. . .

“Umma!!” pekikku dan langsung menarik tangan Taemin oppa untuk segera pulang. Perasaanku benar-benar kacau sekarang. Mudah-mudahan apa yang kukhawatirkan tidak terjadi. Sesampainya di villa, aku langsung berlari kekamar umma dan appa di lantai atas.

BRAKK

Kudobrak pintu dengan kasar dan mendapati Onew appa sedang membaca buku di sofa.

“ada apa Hyerin-ah? Kenapa kau mendobrak pintu?”

“appa, mana umma?” tanyaku dengan nafas yang tersengal-sengal tanpa menjawab pertanyaan appa-ku itu.

“ummamu? Hmm terakhir dia kesuatu tempat bersama Jonghyun. Waeyo?”

Bingo! Apa yang kukhawatirkan sepertinya benar-benar terjadi?

“kenapa appa biarkan saja? Kita harus menyusul mereka sekarang juga dan banyak tanya!”

Aku langsung meninggalkan Onew appa dan berlari kesuatu tempat. Pantai. Aku sangat yakin kalau mereka di pantai.

Itu mereka! Tapi apa yang mereka lakukan? Kulangkahkan kakiku mendekati mereka dan melihat apa yang mereka. Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiranku. Baguslah kalau begitu.

“sepertinya hanya itu yang bisa kita lakukan. Kita memang harus bercerai Kim Jonghyun”

Cerai?! Apa yang umma katakan? Kenapa mereka bercerai? Apa yang sebenarnya terjadi? Ini bukan mimpi kan?

Tanpa sadar, kulangkahkan kakiku agar lebih mendekat pada mereka.

“apa yang barusan umma katakan? Cerai? Kenapa kalian bercerai? Wae?”

“Hyerin-ah?!” mereka kelihatan terkejut melihat kedatanganku.

“wae? Kenapa umma mau bercerai dari appa? Waeyo?!” kucengkram bahu yeoja yang kupanggil “Umma” itu. kuguncang-guncang tubuhnya.

“kau gila umma? Kenapa kau meminta cerai dari appa? Kau sudah tidak mencintainya lagi? Apa kau tidak ingat pada bayi yang sedang kau kandung? Sadar umma! Kumohon sadarlah! Apa kau tidak tega melihat Jonghyun appa yang menangis seperti itu? Apa yang terjadi padamu?”

EUNHYUN POV

Aku hanya tertunduk lesu mendengar perkataan Hyerin. Andai saja dia tahu, kalau aku tidak akan pernah mau bercerai dari Jonghyun.

“kau tidak tahu apa-apa bocah. Apa urusanmu? Pergi sana! Aku ingin menyelesaikan urusanku dengan Jonghyun!” kudorong tubuh yeoja mungil didepanku dengan kasar sehingga kepalanya membentur sesuatu yang keras.

“kau tega umma! Pikirkan perasaan Jonghyun appa!” pekiknya sambil memegangi kepalanya yang mengeluarkan darah.

Tidak kuhiraukan Hyerin yang sedang terluka, tapi malah menarik tangan Jonghyun untuk menjauh dari tempat itu.

“mianhae Hyerin-ah” ucapku lirih, bahkan tidak akan terdengar oleh kelelawar sekalipun.

“sebelumnya aku mau bertanya. Apakah kau masih mencintaiku Kim Eunhyun?” tanyanya begitu kami sudah cukup jauh dari tempat tadi.

Kenapa kau masih bertanya Kim Jonghyun? Jelas-jelas aku masih sangat mencintaimu dan perasaanku ini tidak akan pernah berbubah sampai kapanpun.

“ne” jawabku singkat dengan ekspresi datar. Jonghyun memeluk tubuhku dengan erat tapi aku masih bisa bernafas. Pelukan ini? Apakah aku tidak akan merasakan pelukan hangat ini lagi? Aigo Kim Jonghyun! Berhentilah menyiksaku seperti ini!

“aku akan menjauh untuk sementara dari kau dan Jinki hyung. Akan kuberi waktu untuk kalian berdua tanpaku. Hanya itu yang bisa kulakukan tapi aku tidak mau bercerai darimu nyonya Kim”

Nyonya Kim? Aigo tuan Kim! Kenapa kau memanggilku seperti itu? aku akan merasa sangat merindukan panggilan itu jika kita benar-benar bercerai.

Aku sudah tidak kuat lagi menahan airmataku. Tangisku pun pecah. Kurasakan baju Jonghyun basah karena airmataku. Kulingkarkan kedua tanganku dipinggangnya, membalas pelukannya.

“baiklah Kim Jonghyun. Akan kuberi kau kesempatan. Tapi kalau kau melanggarnya, kita benar-benar akan bercerai”

Akhirnya, aku menemukan jawabannya. Jawaban atas kegalauanku ini. Aku sangat mencintainya dan aku tidak mau kehilangannya sedikitpun. Aku ingin bersamanya sampai takdir memisahkan. Aku ingin melanjutkan kehidupanku bersamanya dan Onew. Kim Jonghyun, maafkan aku sudah membuatmu seperti ini. Aku benar-benar tidak tahu apa yang kuucapkan. Kurasakan tangan kekarnya mengangkat daguku dan menciumku lembut. Kupandang wajahnya yang bersinar terkena cahaya bulan. Betapa beruntungnya aku memilikinya tapi aku malah berniat meninggalkannya. Aku tidak akan pernah melakukan kesalahan seperti ini lagi. Terimakasih Hyerin, terimakasih anakku. Karena kau dan bayi ini, aku tidak jadi bercerai. Terimakasih sudah menyadarkanku.

“jeongmal gomawoyo Hyunnie. Jeongmal saranghaeyo. Jangan pernah tinggalkan aku” kupeluk erat tubuhnya yang kekar itu, tidak membiarkan dia pergi lagi dariku.

Kulepaskan pelukanku karena melihat Onew yang sudah berdiri disampingku.

“JEONGMAL SARANGHAEYO KIM EUNHYUN!!! JANGAN PERNAH MENANGIS LAGI KARENA ITU ADALAH SUMBER KEPEDIHANKU!!!”

“JEONGMAL SARANGHAEYO KIM EUNHYUN!!! JANGAN PERNAH MENINGGALKANKU UNTUK SELAMANYA!!!”

Mereka? Mereka meneriakkan kata-kata itu pada laut biru didepan kami. Omo!! Kenapa kalian selalu romantis seperti ini?

Kutarik nafasku dalam-dalam dan berteriak,

“JEONGMAL SARANGHAEYO LEE JINKI DAN KIM JONGHYUN!! AKU BERJANJI TIDAK AKAN MENANGIS DAN MENINGGALKAN KALIAN!!”

Selesai meneriakkan kalimat itu, airmataku menetes kembali. Kali ini bukan airmata kesedihan tapi airmata kebahagiaan.

“terimakasih sudah mencintaiku” kupeluk erat tubuh mereka berdua. Pelukan yang benar-benar hangat untuk malam yang dingin seperti saat ini.

CUP~

“ya! Kenapa kalian mencium pipiku?” pekikku kaget karena pipiku dicium oleh 2 namja itu.

“terimakasih juga sudah mencintai kami” balas mereka sambil nyengir kuda.

Belum sempat aku memarahi mereka, Onew menggoyang-goyangkan telunjuknya pertanda aku tidak boleh berbicara apa-apa.

“sekarang kita pulang ya? Udara malam ini cukup dingin. Tidak baik untuk kesehatanmu dan bayi kita” ajak Jonghyun sambil menggenggam telapak tanganku.

“ayo kita pulang!” Onew menggenggam telapak tanganku yang lain. sekarang kami bisa pulang dengan tenang. Ditengah jalan, kusempatkan mengirim pesan kepada seseorang. Kutekan tombol send dan berharap dia segera membaca pesanku dan melakukan apa yang kusuruh.

AUTHOR POV

“hoaahm!! Aku benar-benar  ngantuk. Mataku terlalu berat untuk dibuka” Jonghyun menguap lebar. Untung saja tidak ada serangga yang lewat dan masuk kedalam mulutnya itu. Namja itu menghempaskan tubuhnya di kasur dan memeluk gulingnya, bersiap tenggelam dalam dunia khayalannya.

“tiudrlah Jongie. Kau pasti lelah hari ini” Eunhyun yang entah sejak kapan datang, duduk disamping Jonghyun dan mengusap rambut namja yang memiliki suara indah itu.

“ne. aku tidur dulu ya Hyunnie? Good night my princess” dikecupnya bibir yeoja yang sedang mengusap rambutnya itu dan menutup matanya. Terbang kedalam dunia mimpinya yang indah.

“kau tidak tidur? Apa kau tidak lelah?” Onew yang juga entah sejak kapan berdiri disamping Eunhyun, mengusap rambut istrinya itu dengan lembut.

“aku belum mengantuk. Kalau kau sudah mengantuk, tidur sajalah dulu. Aku tidak apa-apa kok” jawabnya menyunggingkan sebuah senyuman padahal didalam hati dia sedang menunggu sesuatu.

Onew pun memeluk guling dan menutup matanya.

“akhirnya mereka tidur juga” batin Eunhyun lalu membereskan beberapa pakaiannya dan memasukkan kedalam koper dengan sangat hati-hati. Yeoja itu mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu lalu meletakkannya di meja rias.

DRRT… DRRT… DRRT…

Dengan cepat, Eunhyun mennyambar handphone-nya yang bergetar itu.

BEAUTY OPPA is calling. . .

Ditekannya tombol berwarna hijau dan meletakkan layar benda itu ditelinganya.

“yoboseyo oppa. . . kau sudah sampai? Baiklah tunggu aku”

Klik! Diputuskannya sambungan telefonnya dan meletakkan handphone berwarna silver itu di saku jeansnya. Dipandanginya dua orang namja tampan yang sedang tertidur pulas sambil memeluk gulingnya. Ditahan tangisnya yang akan pecah itu dan mencium kening kedua namja itu.

“mianhae, aku pergi dulu. Sampai jumpa nae nampyeon. Jeongmal saranghae” ucapnya lirih dan berjalan keluar dari villa yang mewah itu.

Sesampainya diluar villa, ia melihat sebuah mobil berwarna hitam yang sangat familiar baginya sedang menunggunya. Eunhyun sekarang masuk kedalamnya dan memasang seat-belt.

“untung oppa cepat datang. Kalau tidak, aku tidak tahu harus berbuat apa” itulah kalimat pertama yang ia katakan sejak ia berada didalam mobil bersama oppanya, Kevin.

“sebenarnya ada apa? Kenapa kau membuat keputusan gila seperti ini? Kau tidak memikirkan bagaimana perasaan mereka?” omel Kevin atas kelakuan dongsaeng tersayangnya itu.

“nanti saja aku jelaskan. Yang penting kita pergi dari sini secepatnya” Eunhyun memang tidak mau membicarakan masalah yang sedang dihadapinya sekarang karena dia tidak tahu harus berbicara apa.

Kevin yang mengerti perasaan yeoja disampingnya itu hanya mengangguk dan kembali focus pada jalanan.

. . . . . .

“ini, minumlah nae dongsaeng” Kevin menyodorkan sebuah gelas berisi cappuccino hangat yang dibelinya disebuah kios yang ada di bandara.

“gomawo oppa” Eunhyun mengambil gelas itu dan menyeruput cappuccinonya.

“sepertinya kita sudah harus masuk. Kajja Eunhyun-ah!”

Eunhyun segera berlari menyusul oppanya tapi beberapa langkah sebelum memasuki pesawat, ia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.

“sampai jumpa semuanya. Aku akan segera kembali. Aku janji” batinnya sambil menatap lurus kedepan. Ia menggigit bibirnya dan mengepalkan telapak tangannya untuk menahan airmatanya.

“Eunhyun-ah! Cepatlah!”

“ne oppa” ia langsung berlari memasuki pesawat dan duduk disebelah oppanya.

“kau yakin akan melakukan ini?”

“ne oppa. Aku sangat yakin” Eunhyun berusaha meyakinkan bahwa kuputuskan yang diambilnya ini adalah yang terbaik tapi tidak dengan hati dan perasaannya.

“perjalanan ke Tokyo menghabiskan waktu kira-kira 2,5 jam. Istirahat saja lah dulu nae dongsaeng” ucap namja berambut pirang itu sembari mengelus lembut rambut Eunhyun.

“ne oppa” jawabnya singkat dan mengalihkan pandangannya kearah jendela.

“mianhae, jeongmal mianhae. Aku pergi tanpa berpamitan pada kalian. Aku janji aku pasti kembali. Jongie, aku akan tetap menjaga anak kita. Aku janji” akhirnya yeoja berambut hitam itu tidak bisa lagi menahan airmata yang daritadi ia tahan. Ia hanya menutup mulutnya agar oppanya tidak tahu kalau dia sedang menangis.

HYERIN POV

Klik! Klik! Klik!

Aku memindah-mindah channel tv tanpa tujuan. Aku benar-benar bosan sekarang. Bahkan aku belum mengantuk sedikitpun. Ottokhae? Apa ini? Kenapa perasaanku tiba-tiba jadi aneh seperti ini? Kuguncang-guncang tubuh kurus Taemin oppa yang sudah tertidur.

“waeyo Hyerin-ah? Kenapa membangunkanku?” Taemin oppa bangun dari tidurnya dan mengucek-ngucek matanya.

“tiba-tiba saja perasaanku jadi tidak enak. Aku takut akan terjadi sesuatu” aku langsung turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.

Kutelusuri setiap sudut villa mulai dari kolam renang, halaman depan, kamar Minho dan Key oppa. Tinggal satu yang belum. Kamar Appa dan Umma! Aku langsung berlari menuju kamar yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamar oppa-oppaku itu.

KREKK

Kubuka pintu kamar itu dan melihat kedalam. Kenapa umma tidak ada? Kemana dia? Kucari kedalam kamar mandi dan ke balkon tapi hasilnya. . . NIHIL

“ada apa Hyerin-ah? Kenapa masuk kamar kami? Onew yang tidurnya terganggu karena keributan yang dihasilkan oleh anaknya itu terbangun sementara Jonghyun appa berusaha membuka matanya dengan berat.

“dimana umma? Dimana dia?”

“umma? Terakhir dia tadi bersama kami”

“ada apa ini ribut-ribut?” tanya Minho oppa yang entah sejak kapan berdiri didepan pintu kamar.

“hei itu ada surat!” pekik Key oppa yang berada dibelakang Minho oppa.

Diambilnya sepucuk surat itu dan membukanya.

“annyeong^^ saat kalian membaca surat ini, mungkin aku sedang berada disuatu tempat yang tidak kalian ketahui. Jeongmal mianhae tidak memberitahu kalian tapi aku sedang membutuhkan waktu berpikir. Jangan mencariku. Aku bisa menjaga diriku. Jonghyun, aku akan menjaga anak kita dan pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Aku pasti kembali. Aku janji. Saranghae^^” Key oppa membacakan isi kertas yang sedang dipegangnya itu.

Apa yang sedang umma pikirkan? Kenapa dia berbuat seperti ini? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Apa karena masalah tadi? Aigo umma! Kenapa kau jadi rapuh seperti ini? Kuambil handphone dari kantong celanaku dan mencari sebuah kontak: PERVERT UMMA. Kutekan tombol berwarna hijau dan meletakkan layar benda itu ditelingaku.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan coba beberapa saat lagi” SHIT! Aku tidak mau mendengar suaramu operator sialan! Spontan aku langsung berlari keluar, menuju mobil.

“hei bocah! Naik mobilku saja! Kajja!”

Sebenarnya aku tidak sudi semobil lagi dengan si Key itu tapi apa boleh buat? Untuk kali ini aku harus berdamai dengannya. kutarik tangan Taemin oppa masuk kedalam mobil namja berambut pirang yang sangat kubenci itu. seperti biasa, Key oppa melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata(?) membuat kami sampai di airport dalam waktu kurang dari 10 menit *amazing amat-_-*

Aku langsung turun dari mobil dan berlari memasuki airport. Kuedarkan pandanganku keseluruh penjuru airport tapi aku tidak menemukan sosok yang kucari. Aigo dimana dia?

BRUKK

Karena kurang hati-hati, aku menabrak seseorang dan terjatuh. Haish! Pabboya!

“mianhae, jeongmal mianhae. Aku benar-benar tidak sengaja” aku langsung berdiri dan membungkuk sembari meminta maaf pada orang yang kutabrak barusan.

“Hyerin-ah?”

Suara itu? suara yang sangat familiar di telingaku. Kudongakkan kepalaku dan BINGO! Aku tidak salah. Dongho oppa. Tebakanku ternyata tidak salah tapi apa yang dia lakukan disini? Atau jangan-jangan dia sengaja mengikutiku? Aish! Jangan berprasangka buruk dulu Lee Hyerin!

“Dongho oppa? Kenapa kau bisa ada disini?”

“aku hanya sedang butuh liburan, makanya aku berlibur ke Macau. Apa yang kau lakukan disini malam-malam begini? Kenapa tampangmu terlihat kacau? Kau tidak kenapa-napa kan?”

“umma pergi tanpa kami ketahui. Aku takut dia kenapa-napa” jawabku terisak. Aku benar-benar khawatir pada umma.

Dongho oppa memeluk tubuhku sembari mengusap-usap rambut panjangku.

“uljimma~ kau harus tenang hyerin-ah. Mungkin umma mu sedang banyak masalah. Jangan menangis lagi ya?” diusapnya airmata yang mengalir di pipiku dengan lembut.

“apa umma tidak peduli pada kami lagi? Apa dia tidak memikirkan keluarganya?” ucapku masuh terisak. Airmata masih mengalir dari kedua bola mataku yang berwarna kecoklatan.

Dongho oppa meletakkan telunjuknya tepat di bibirku dan berkata,

“kau jangan berkata seperti itu. umma mana yang tidak pernah memikirkan keluarganya? Umma mu pasti selalu memikirkan kalian Hyerin-ah”

Aku yang tidak tahu harus berkata apa lagi, berlari meninggalkan Dongho oppa dan semua yang daritadi hanya melihatiku dan Dongho oppa.

“Hyerin-ah!!” tidak kupedulikan teriakan Taemin oppa dan Onew appa dan segera masuk ke salah satu taksi terdekat.

AUTHOR POV

“ada apa dengan yeoja itu? kenapa dia pergi tiba-tiba seperti ini?” gerutu Taemin dalam hati dan bergegas memasuki taksi yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

“ikuti taksi didepan pak”

. . . . . . . . .

“kita mau kemana nona?” tanya supir taksi itu pada Hyerin.

“terserah saja yang penting aku tidak pulang” jawab Hyerin asal sambil memandang keluar jendela taksi.

“jakkaman! Suara itu? Suara yang cukup familiar di telingaku. Atau jangan-jangan. . .” batinnya ketika menyadari suatu hal.

“Jonghun oppa?” tanyanya setengah memekik memastikan siapa si supir taksi itu.

“annyeong Lee Hyerin” sapa si supir taksi yang ternyata adalah Choi Jonghun, mantan kekasih Hyerin semasa SMP.

“aigo!! Kenapa aku bisa bersama Jonghun oppa? Aku takut dia masih marah padaku” batin Hyerin mengingat masa lalunya.

FLASHBACK

HYERIN POV

“oppa, kita ke kantin yuk? Aku lapar sekali” ajakku manja pada namjachinguku, Jonghun. Tapi dia tidak merespon ajakanku. Dia hanya termenung menatap kosong ke depan. TIKK! Kujentikkan jari telunjuk dan ibu jariku, bermaksud menyadarkannya dari lamunannya. Karenanya Jonghun oppa tersentak kaget.

“oppa, gwenchana? Daritadi kuperhatikan, pikiranmu sedang tidak disini. Kau sakit? Ada masalah kah?”

“aniyo, aku tidak apa-apa. Ayo kita ke kantin. Kau pasti lapar kan?”

Ternyata pikirannya tidak sepenuhnya melayang. Buktinya dia tahu aku sedang kelaparan.

“dua ramyun dan jus jeruk” Jonghun oppa memesankan makanan kepada bibi penjaga kantin sekolah yang sudah lumayan hafal dengan wajahku dan Jonghun oppa.

DRRT… DRRT…

Handphone Jonghun oppa yang terletak diatas meja bergetar-getar. Sepertinya ada pesan yang masuk. Ia buru-buru mengambil handphone berwarna silver itu dan menatap layar handphone-nya dengan serius.

“Hyerin-ah, aku pergi sebentar ya? Nanti aku akan kembali lagi” pamitnya dan langsung berlari meninggalkanku sendirian.

“dia mau kemana ya? Kenapa sepertinya dia terburu-buru sekali? Pesan dari siapa tadi itu?” hatiku bertanya-tanya yang aku tidak tahu jawabannya. Tidak kusadari aku melamun memikirkannya. Lamunanku buyar saat seorang yeoja paruh baya mengantarkan pesananku.

“lebih baik aku makan dulu. Cacing di perutku benar-benar sudah berdemo”

Segera kulahap semangkuk ramyu di depanku dengan lahap. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk menghabiskan makanan itu tapi kenapa Jonghun oppa belum datang juga? Kenapa dia lama sekali? Kemana dia pergi?

Kuminum jus jeruk ku dengan cepat dan beranjak dari kursi. Kuputuskan untuk mencarinya setelah aku membayar pesanan tadi. Tapi aku harus mencarinya dimana? Taman! Yah mungkin saja dia ada di taman belakang sekolah. Aku pun berlari ke taman yang tidak cukup jauh dari kantin tersebut. Benar saja, Jonghun oppa ada disana tapi siapa yeoja itu? Kenapa mereka kelihatan dekat sekali? Bahkan bukan seperti teman, melainkan. . . seorang kekasih!

Kuputuskan untuk bersembunyi dan menguping pembicaraan mereka.

“saranghamnida Ahn Soora”

Apa dia bilang? Saranghamnida? Apa maksudnya ini? Jonghun oppa mendekatkan wajahnya ke wajah yeoja di depannya. Merengkuhnya dan mencium bibirnya lembut. Tanpa kusadari, aku berjalan perlahan mendekati 2 orang itu.

Kulepaskan ciuman mereka, kutarik tubuh Jonghun oppa dan. . .

PLAKK

Sebuah tamparan keras dariku melayang di pipinya. Aku benar-benar tidak dapat menahan emosiku. Hatiku hancur dalam sekejap. Cinta yang selama ini aku jaga dengan baik, dihancurkan hanya dalam beberapa detik. Setelah menampar namja itu, aku berlari meninggalkan orang yang sudah membuatku sait hati itu sebelum tanganku ditahan oleh seseorang.

“Hyerin-ah, kumohon dengarkan penjelasanku dulu”
“aku tidak butuh penjelasan darimu. Sekarang juga kita PUTUS!!” bentakku padanya berusaha menahan tangisku.

FLASHBACK END

“berhenti oppa! Turunkan aku disini!” Hyerin kelihatan sangat ketakutan. Entah kenapa dia takut sekali pada Jonghun.

Jonghun hanya diam tanpa menjawab ucapan Hyerin. Dia masih serius melajukan mobilnya.

“kita sudah sampai. Ayo turun Hyerin-ah” Jonghun membukakan pintu mobil dan menyuruh Hyerin untuk keluar. Tapi Hyerin masih saja duduk di dalam mobil.

“oppa, antarkan aku pulang. Jebal~”

Karena tidak sabaran, Jonghun menarik Hyerin keluar dengan paksa.

“oppa, kumohon lepaskan aku” pinta Hyerin memelas karena takut pada Jonghun yang melihatnya dengan tatapan tajam.

“tidak akan! Aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah ada di genggamanku!” bentak Jonghun tidak tahan melihat Hyerin yang terus saja memohon untuk dilepaskan. Tanpa Hyerin sadari, Jonghun mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya.

“o-oppa, apa yang akan kau lakukan?” Hyerin terlihat sangat ketakutan melihat pisau yang dipegang Jonghun. Perlahan-lahan Jonghun mendekati Hyerin, berniat untuk menusuknya.

“TAEMIN OPPA!!! TOLONG AKU!!!”

“mianhae Hyerin-ah, saranghae” sedikit lagi, pisau tajam itu hampir menusuk perut Hyerin sebelum. . .

“LEPASKAN ISTRIKU CHOI JONGHUN!!” kegiatan Jonghun terhenti karena mendengar suara namja yang familiar di telinganya.

“tidak akan kulepaskan! Berani kau mendekatinya akan kubunuh kau Lee Taemin!!’

Jonghun bersiul, memanggil para anak buahnya yang berbadan besar.

“habisi saja dia!!” perintahnya dan menarik Hyerin masuk kedalam mobil.

“TAEMIN OPPA!!” Hyerin meronta-ronta, mencoba melepaskan tangan Jonghun yang mencengkram lengannya dengan kuat. Tapi usahanya sia-sia. Tenaganya tidak sebanding dengan Jonghun. Jonghun menghempaskan tubuh Hyerin ke dalam mobil dan duduk di belakang setir. Melajukan mobilnya ke suatu tempat yang tidak Hyerin ketahui.

. . . . . . . . . .

BUKK!

Salah seorang dari anak buah Jonghun memukul wajah Taemin dengan keras. Mengakibatkan Taemin jatuh terusngkur. Taemin mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena dipukul namja bertubuh besar didepannya.

“Taemin-ah, gwenchana?” Key yang entah sejak kapan berada diantara mereka, membantu Taemin untuk berdiri.

“YA! Apa yang kalian lakukan pada dongsaengku hah?!” Minho menyerang namja-namja bertubuh besar didepannya. Berbeda dengan Taemin, Minho dapat mengelak setiap kali mendapatkan serangan.

BUKK!

Minho berhasil menjatuhkan 4 dari 5 namja bertubuh besar itu. Tapi dimana yang 1 lagi?”

“HYUNG!! AWAS!!” Taemin memekik pada Key yang lengah, sehingga tidak menyadari jika namja yang tersisa berada dibelakangnya.

“AAARGH!!” Key merintih kesakitan memegangi perutnya yang tertusuk oleh pisau tajam yang dipegang namja besar itu.

“YA! Kalian apakan anakku hah?!” Jonghyun dan Onew datang bersamaan disaat Key terjatuh memegangi perutnya yang bersimbah darah.

“Mnho-ya!! Cepat bawa Key ke rumah sakit. Biar kami yang mengurusnya” perintah Onew pada Minho yang termenung melihat Key yang terluka.

“ne appa. Kuserahkan pada kalian” Minho menggendong tubuh Key yang lemah dan tidak berdaya itu masuk ke dalam mobil.

“Taemin-ah, kau jangan diam saja. Cepat kejar Hyerin sebelum terlambat. Pakai saja mobil appa” bentak Onew pada Taemin yang hanya diam tanpa melakukan apa-apa.

“ne appa. Hati-hati melawannya” Taemin berlari memasuki mobil dan pergi meninggalkan Jonghyun dan Onew.

Jonghyun dan Onew menatap tajam kepada namja yang berhasil membuat Key terluka parah. Mereka pun maju melawan namja bertubuh besar itu dengan berani. Tidak terlihat ketakutan sedikit pun dari wajah mereka. Setiap kali diserang, Onew dan Jonghyun berhasil menghindar. Tapi setiap kali Onew atau Jonghyun melontarkan serangan, namja bertubuh besar itu kesulitan menghindar. Itulah kelemahannya. Jonghyun memikirkan suatu strategi saat menyadari kelemahan namja bertubuh besar itu. Jonghyun membisikkan sesuatu pada Onew yang dibalas dengan anggukan. Mereka langsung berlarimendekat namja berwajah sangar itu. Onew menjegal kaki namja itu hingga terjatuh ke tanah dan Jonghyun menendang wajahnya. Namja itu tidak sadarkan diri setelah menerima tendangan dari Jonghyun. Mereka tersenyum puas saat mengetahui bahwa mereka berhasil mengalahkan namja itu. Mereka pun berjalan santai meninggalkannya. Tanpa mereka sadari, namja yang mereka kalahkan itu bangkit dan berlari kearah mereka.

“AAARGH!!” Jonghyun berteriak saat kaki kanannya tergores cukup dalam karena pisau yang dipegang namja bertubuh besar itu. Onew yang melihat Jonghyun mengerang kesakitan, tidak tinggal diam dan membalas perbuatan namja bertubuh besar itu. Dengan sekali serangan, Onew berhasil membuat namja itu kalah. Onew memastikan apakah namja itu tidak sadarkan diri atau masih terjaga. Onew menggendong tubuh Jonghyun dipunggungnya dan berlari menuju rumah sakit terdekat, mengingat mobilnya dipakai oleh Taemin.

. . . . . . .

“oppa, turunkan aku. Kumohon oppa, lepaskan aku” Hyerin terus memohon kepada Jonghun untuk melepaskannya. Tapi Jonghun tidak merespon setiap kata yang keluar dari mulut Hyerin sedikitpun. Jonghun menghentikan mobilnya dan menarik Hyerin keluar dari mobil dengan paksa. Hyerin terus meronta-ronta kesakitan karena lengannya ditarik paksa oleh Jonghun. Jonghun membawa Hyerin ke apartemen pribadinya yang bisa dibilang cukup mewah. Jonghun menghempaskan tubuh Hyerin di kasurnya dan menatapnya dengan tatapan yang agak aneh. Hyerin yang merasakan sesuatu yang aneh akan terjadi, buru-buru beranjak dari kasur itu dan berlari kearah pintu.

“SHIT! Pintunya dikunci!” rutuk Hyerin mengetahui jika ia tidak bisa keluar dari apartemen itu. dia berbalik dan mendapati Jonghun berjalan mendekatinya dengan sebuah senyuman tidak berarti di bibirnya. Hyerin yang terjebak karena dibelakangnya adalah pintu, tidak tahu harus lari kemana lagi.

“TAEMIN OPPA!! TOLONG AKU!!”

TAEMIN POV

Aku melajukan mobil dengan kecepatan yang tinggi. Aku tidak mempedulikan keselamatanku. Yang penting adalah aku bisa menyelamatkan Hyerin dari cengkraman namja brengsek itu. kukepalkan tanganku mengingat apa saja hal yang sudah ia lakukan pada Hyerin yang membuat Hyerin sakit hati.

Aku berhasil mengikuti mereka sampai ke sebuah apartemen. Kubuntuti mereka tapi kemana mereka? Kenapa cepat sekali mereka menghilang? Aish! Aku kehilangan jejak mereka! Ottokhae? Apartemen ini sangat luas. Tidak mungkin aku harus menelurusi lantai demi lantai. Itu akan memakan waktu yang lama. Bisa-bisa sesuatu yang lebih buruk lagi menimpa Hyerin. Sebuah ide melintas di benakku. Entah kenapa, kumantapkan tujuanku kesuatu tempat. Lantai paling atas. Yah mungkin saja mereka disana. Aku harus cepat. TING! Begitu pintu lift terbuka, aku langsung masuk kedalamnya dan memencet tombol lantai apartemen paling atas.

“TAEMIN OPPA!!” kudengar suara teriakan yang sangat kukenali.

“HYERIN-AH!!” kugedor-gedor pintu dengan paksa dan berhasil. Pintu itu dengan mudahnya terbuka setelah kudobrak.

“fufufu~ aku kedatangan tamu lagi. Selamat datang Lee Taemin. Bagaimana kabarmu?” Jonghun menyapa atau lebih tepatnya tidak suka dengan kehadiranku.

Tanpa basa-basi, kuserang dia dengan segenap tenagaku tapi hebatnya dia berhasil mengelak dan meninju perutku dengan keras. Aku meringis memegangi perutku dan darah segar keluar dari mulutku. Kesadaranku hampir hilang tapi karena mengingat janjiku untuk menyelamatkan Hyerin, kupaksakan diriku untuk bangun.

“OPPA!! AWAS!!” samar-samar kudengar teriakan Hyerin tapi awas untuk apa? Kupaksakan diriku untuk mengumpulkan kesadaranku tapi apa yang kulihat? Didepanku berdiri Hyerin yang memegangi perut sebelah kanannya yang mengeluarkan banyak darah. Hyerin? Kau melindungiku? Dia pingsan dan ambruk didepanku.

“Hyerin-ah!! Bangunlah!!” kutepuk-tepuk pipinya, mencoba membangunkannya tapi hasilnya nihil. Dia tidak membuka matanya. Kutatap tajam kearah Jonghun yang memandangi tubuh Hyerin yang tidak berdaya dipelukanku. Aku berdiri dan memukul dadanya dengan keras sehingga dia jatuh tersungkur kebelakang. Kuikat kedua tangannya dengan sapu tangan yang ada di kantong celanaku dan kutelfon kantor polisi. Kugendong Hyerin yang pingsan dan kubawa keluar dari apartemen itu. kubaringkan tubuhnya dengan hati-hati di mobil dan langsung melesat menuju rumah sakit.

. . . . . . .

EUNHYUN POV

Aku dan Kevin oppa akhirnya tiba di Tokyo setelah menempuh perjalan selama 2,5 jam. Aku berhasil menutupi kenyataan kalau aku tadi menangis di pesawat. Untung saja Kevin oppa tidak bertanya lebih jauh tentang itu.

“Eunhyun-ah, maukah kau menggantikan asistenku untuk sementara? Dia sedang sakit”

“mwo? Menggantikan asistenmu? Tentu saja aku mau. Aku kan lumayan paham tentang perusahaan. Ngomong-ngomong kita akan tinggal dimana?

“kita akan tinggal di apartemen Soohyun. Kau ingat dia kan?”

“mwo? Kenapa kita tidak menginap di hotel saja?”

“aniya! Pokoknya kita menginap di apartemen Soohyun. Arachi nae dongsaeng? Aah itu dia!”

Aku melihat kearah telunjuk Kevin oppa. Terlihat jelas olehku seorang namja tinggi berambut kecoklatan melambai-lambaikan tangan kearahku dan Kevin oppa.

“oppa!!!” aku berlari meninggalkan Kevin oppa yang kesulitan mengangkat kopernya dan memeluk tubuh namja yang melambaikan tangan kearahku.

Ehem!

Aku langsung melepaskan pelukanku saat mendengar Kevin oppa berdehem didekatnya.

“ingat Eunhyun-ah. Kau sudah punya suami. Jaga perasaan mereka” bisiknya padaku yang kubalas dengan anggukan.

“aku lelah. Ayo kita pulang oppa” aku merengek-rengek pada Soohyun oppa yang sedari tadi terus menatapku lembut.

Soohyun oppa menggandeng tanganku sedangkan Kevin oppa mendorong 2 koper dibelakang kami *kasian amat (-_-)*

Selama di mobil, aku hanya melamun tidak jelas sambil memandang keluar jendela. Aku merindukan mereka semua. Aku merindukan perhatian Onew dan Jonghyun, pertengkaran Hyerin dengan Key, dan ekspresi Taemin dan Minho yang harus melerai kedua kakak-beradik yang bertengkar itu. aku benar-benar merindukan mereka padahal belum 1 hari aku meninggalkan mereka. Apakah aku akan sanggup meninggalkan mereka selama beberapa hari? Tidak kusadari airmataku menetes membasahi bajuku.

“Eunhyun-ah, gwenchanayo? Kenapa kau menangis? Kau rindu pada mereka?” ternyata Kevin oppa menyadari isak tangisku. Buru-buru kuusap airmataku yang semakin deras itu.

“AAAARGH!!” kupegangi perutku yang mendadak terasa sakit itu. aku meringis menahan sakit yang tidak bisa kutahan itu.

“Eunhyun-ah? Gwenchanayo? Soohyun-ssi, cepat kerumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu dengan kandungan Eunhyun. Ppali!”

“mwo? Eunhyun hamil?” pekik Soohyun oppa saat mengetahui kalau aku hamil. Yah aku memang tidak memberitahunya tentang kehamilanku ini karena beberapa alasan yang tidak bisa kujelaskan.

“aniyo oppa. Jangan bawa aku kerumah sakit. Aku sudah tidak apa-apa” kupaksakan sebuah senyuman padahal rasa sakit masih menjalar di perutku. Entah kenapa perasaanku berubah gelisah. Omo!! Apa yang terjadi? Kuambil handphone-ku dari dalam tas dan mencari sebuah kontak: CHICKEN DUBU. Tapi tidak ada tanda-tanda dia akan mengangkat telfonku. Kucari lagi sebuah kontak yang akan kuhubungi selanjutnya: NAE JONGIE. Oke! Untuk yang kedua kalinya, tidak ada yang mengangkat telfonku. Kucari lagi kontak yang menjadi target untukku telfon: MR. CHOI. Kuletakkan layar handphone ke dekat telingaku, menunggu seseorang menjawabnya. “angkat telfonku tuan Choi!” rutukku dalam hati.

“yoboseyo umma. Ada apa menelfon?” aah akhirnya dia mengangkatnya.

“yoboseyo Minho-ya. Apa keadaan disana baik-baik saja? Perasaan umma tidak enak”

“perasaanmu tidak salah sama sekali umma. Keadaan disini sedang tidak baik”

“apa maksudmu? Apa yang terjadi disana?”

“tadi kami menyusul umma ke airport. Saat mengetahui umma sudah tidak ada disana, Hyerin berlari meninggalkan kami dan masuk ke sebuah taksi yang dikemudikan Jonghun. Umma ingat dia kan? Dia menculik Hyerin. Kaki kanan Jonghyun appa terluka, perut Key dan Hyerin tertusuk pisau dan Taemin mengalami memar”

“apa katamu?! Minho-ya!! Minho-ya!!” oh great! Sekarang sambungan telfon terputus karena baterai handphone-ku habis. Jadi ini sebab kenapa perutku sakit sekali tadi. Kupandangi dan kuusap perutku yang masih datar. Kau merasakan sakit seperti yang appa dan noona-mu rasakan ya sayang?

“oppa, sekarang juga kita kembali ke Macau. Ppali!” perintahku setengah membentak. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol pikiranku sekarang. Apakah ini hukuman karena aku meninggalkan mereka begitu saja? Mianhae, jeongmal mianhae.

“sebenarnya ada apa Eunhyun-ah? Apa yang terjadi pada mereka?” Soohyun oppa yang sedari tadi hanya diam memberanikan diri bertanya padaku. Kuceritakan semua yang kudengar dari Minho tadi dengan detail.

“tenanglah Eunhyun-ah, mereka pasti baik-baik saja” Soohyun oppa menggenggam tanganku, berusaha menenangkan hatiku yang terus gelisah. Sebenarnya aku ingin melepaskan genggaman tangannya, mengingat kata-kata Kevin oppa tadi tapi aku benar-benar butuh tangannya. Sekarang cuma dia yang bisa menenangkanku karena Kevin oppa sedang sibuk mengurus tiket untuk kami (-__-)

“Eunhyun-ah, bolehkah aku ikut bersamamu? Aku hanya ingin menjaga dan memastikan kalau kau baik-baik saja”

Kutatap wajah Soohyun oppa yang tersenyum padaku. Senyumnya begitu hangat, membuatku sedikit melupakan rasa gelisah. Tapi untuk apa dia ingin menjagaku? Bukannya Kevin oppa bisa menjagaku? Tapi tidak apalah. Apa salahnya seorang oppa menjaga dongsaeng-nya sendiri? Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan sebuah senyuman.

“ayo cepat! Kita pergi sekarang!” Kevin oppa langsung menarikku dari kursi *kejem amat._.”

“perutmu sudah tidak sakit lagi kan, Eunhyun-ah?”

“ne perutku sudah tidak sakit lagi” jawabku tersenyum. Mianhae oppa, sebenarnya perutku masih sakit. Aku hanya tidak mau kau mengkhawatirkanku.

Di pesawat, aku tidak henti-hentinya berdoa agar mereka semua baik-baik saja. Aigo! Kenapa lama sekali sampai di Macau? Tidak tahukah kalau aku sedang panik? Ingin rasanya aku memaki-maki pilotnya tapi cepat-cepat kuurungkan niat gilaku. Karena terlalu lelah, aku tertidur di bahu Soohyun oppa.

. . . . . . . . .

Kurasakan seseorang mengguncang-guncang pundakku dengan lembut.

“Eunhyun-ah, bangunlah. Kita sudah sampai” dari caranya membangunkanku, jelas sekali kalau dia bukan Kevin oppa. Kubuka kelopak mataku dan mengerjap-ngerjapkannya, berusaha mengumpulkan segenap nyawaku yang masih tertinggal di alam mimpiku.

“ya! Cepat kita ke rumah sakit! Ppali!” pekikku tiba-tiba setelah aku benar-benar tersadar dari tidurku.

“hello nae dongsaeng. Kita sudah sampai di rumah sakit. Makanya jangan tidur terus”

Aku hanya mengerucutkan bibirku mendengar sindiran Kevin oppa. Buru-buru aku keluar dar mobil. Saking terburu-burunya, kepalaku terantuk pintu mobil (-__-) tidak kupedulikan kepalaku yang berdenyut ini dan berlari ke sebuah ruangan Key setelah bertanya pada resepsionis.

KRIIT

Kubuka pintu putih itu dengan hati-hati. Mungkin saja Key sedang terlelap. Aku tidak ingin mengganggunya. Apa ini? Kenapa mereka. . . .?

TO BE CONTINUED


Gimana readers? Jelek? Bertele-tele? Atau kurang memuaskan?

Jeongmal mianhae kalau jelek soalnya author masih amatir.

Bagi yang udah baca, komennya sangat dibutuhkan untuk kelanjutan FF ini.

Kamsahamnida *bow*