Thank You (Part 2)


Hello reader semuanya!! *teriak bareng Kyu*. Setelah sekian lama hiatus dari dunia ff akhirnya author sarap balik lagi mehehehe (ʃ⌣ƪ) pasti pada kangen *padahal ngga ada yang kangen*

Okelah daripada memperpanjang basa-basi yang sama sekali ngga ada penting-pentingnya mending langsung baca lanjutan ff-nya ya-_-v

Happy reading, guys!

~~~~~~~~~~~

Author: narachikim

Cast: Cho Kyuhyun, Kim Hyori, Krystal Jung, etc.

Genre: Chapter, Romance, Friendship.

Part : Prolog| Part 1

~~~~~~~~~~~

Author POV

Hyori terdiam dalam dalam kesunyian. Tubuhnya yang tergeletak di atas kasur membuatnya malas untuk melakukan sebuah aktifitas. Bola mata Hyori terus menatap ke langit-langit kamar. Warna sapphire blue yang membuat Hyori tidak dapat melepas pandangannya tersebut. Pikirannya dipenuhi sejuta pertanyaan yang tak dapat ia jawab.

Tuhan.. apakah kau benci padaku?” batin Hyori dalam hati. Mata bulat Hyori pun menutup lalu air mata pun meleleh dari kedua mata tersebut. Isakan mulai terdengar dari mulut Hyori. Suara isakan Hyori mengisi kesunyian yang ada dalam kamarnya. Tidak akan ada yang tau bahwa ia menangis. Tidak akan ada yang tau bahwa ia membutuhkan bahu tempat untuk ia menangis. Tidak akan pernah ada..

~~~~~~~~~~~

“Jangan pernah menyesali apa yang telah Tuhan berikan untukmu. Tuhan telah merencakan sesuatu yang indah untukmu. Tunggulah hingga keindahan itu muncul dalam kehidupanmu”.

Suara itu terdengar begitu familiar di telinga Hyori. Namun rasanya ia sudah lama tidak mendengarnya, sehingga ia lupa siapa pemilik suara tersebut. Hyori pun mencari asal suara tersebut. Di pojok kamar, Hyori menemukan seorang yeoja tinggi yang sedang mematung menatap foto Hyori. Rasa penasaran pun muncul dalam benak Hyori. Siapa yeoja ini? Apakah ia mengenalnya? Hyori pun menjauhkan selimut yang menutupi kaki-nya lalu turun dari tempat tidurnya. Hyori menghampiri yeoja itu. Tangan Hyori hendak meraih bahu yeoja itu. Namun, yeoja itu langsung menoleh. Hyori terdiam mematung. Ia kenal siapa yeoja ini.  Wajah yang sangat ia rindukan. Wajah yang hanya bisa Hyori tatap melalui foto. Wajah yang telah lama meninggalkannya. Wajah yang membuat Hyori begitu kehilangan. Wajah yang membuat appa sangat frustasi karena kepergiannya.

Ya.

Eomma sedang berdiri di hadapannya.. di hadapan Hyori. Wajahnya masih sama tetap ramah seperti terakhir Hyori melihat eomma-nya 13 tahun yang lalu. Senyum merekah menghiasi wajah cantik eomma. Air mata Hyori pun kembali meleleh.

Badan Hyori pun rebah dan jatuh ke dalam pelukan eomma-nya. Hyori memeluk erat eomma seakan tak akan lepas. Eomma Hyori hanya tersenyum lalu membalas pelukan Hyori.

“Daridulu… aku merindukan eomma. Ingin kembali bertemu eomma. Tapi rasanya tak mungkin. Namun, kini aku melihat eomma. Aku rindu sekali”. tutur Hyori sambil terisak. Ia tidak bisa lagi menahan perasaannya.

“Jangan menangis.. Eomma tak bisa melihatmu menangis”. tutur eomma lembut sembari mengelus rambut panjang Hyori lalu mengusap air mata anaknya tersebut.

Hyori merenggangkan pelukannya. Ia tatap wajah eomma-nya. Eomma masih tersenyum.

“Eomma.. Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkanku. Aku sangat membutuhkan kasih sayang eomma disini”

Eomma tersentak begitu mendengar kata-kata Hyori. Di elusnya kembali rambut Hyori. Kenyataan yang memang tak mungkin terjadi.

“Maafkan eomma, Hyori. Memang eomma tidak bisa memberimu kasih sayang. Namun, aku selalu berada dalam hatimu. Percayalah~ Dan ingatlah. Tuhan tidak pernah membencimu. Tuhan sangat menyayangimu lebih dari kau tau~”

Tangan eomma pun mengelus pipi Hyori. Tapi aneh, Hyori tidak dapat merasakan apa-apa. Hyori mencoba meraih tangan eomma. Tak bisa. Tangan eomma bagaikan sebuah dimensi yang tak dapat disentuh.

Air mata Hyori kembali mengalir. Keberadaan eomma semakin menjauh.

“Eomma mau kemana? Ku mohon jangan tinggalkan aku lagi”

~~~~~~~~~~~~~

HYORI POV

Aku terbangun dengan keringat yang bercucuran di dahi-ku. Pandanganku menyapu seluruh kamar berharap ada seseorang. Dan aku tidak menemukan siapapun. Aku hanya sendiri. Apa aku pun perlu mati dalam kesendirian?

Aku bangkit dari tempat tidurku lalu bergegas keluar rumah. Tak lupa ku ambil gitar-ku sebelum pergi dari rumah. Hanya dengan ini aku bisa sedikit tenang.

KYUHYUN POV

Tidak ada yang bisa ku lakukan hari ini. Entah mengapa aku memilih berada di rumah saja hari ini. Hari ini panas sekali. Aku jadi malas ke luar rumah. Kamarku sunyi sekali, ah bukan hanya kamarku saja. Rumah ini juga sunyi sekali, seperti rumah hantu saja.

Selama 2 jam di dalam rumah yang terdengar hanya suara kipas angin. Aku terdiam mematung dari dalam kamar melihat keluar jendela memandang langit dan melihat jalanan di bawah. Sesekali aku memperhatikan orang-orang yang lewat di depan rumah.

Satu jam telah berlalu. Namun aku masih tetap berkutat dengan aktifitasku sedari tadi. Merasa bosan saja tidak. Bagaimana tidak, dari kecil aku memang sudah terbiasa melihat langit, memperhatikan jalanan, dan terkadang mengganggu yeoja dan noona cantik yang lewat ㅋㅋㅋㅋ

Entah apa yang menahanku untuk tetap bertahan memandang keluar jendela. Jika dilewatkan sebentar saja rasanya rugi sekali.

Tiba-tiba saja mataku tertuju pada seorang yeoja yang sedang berdiri di pertigaan jalan di dekat rumah. Padahal tidak ada yang menarik tapi tetap saja mataku ingin tetap melihat kesana.

Yeoja itu masih berdiri mematung. Entah apa yang akan dilakukannya aku tidak tau. Sepertinya yeoja itu sendiri juga bingung ingin pergi kemana. Aku tidak tau itu siapa, tapi aku merasa aku mengenalnya. Gezz aku tidak bisa mengenali siapa pemilik wajah itu. Wajahnya samar-samar terlihat olehku. Ku perhatikan yeoja itu, dia sedang menendang-nendang batu kecil. Aneh. Sedang apa yeoja itu disana?

Tak lama kemudian yeoja itu menyebrangi pertigaan jalan dan sepertinya akan melewati rumahku. Ini kesempatanku untuk mengetahui siapa yeoja itu. Jarak yeoja itu semakin dekat dengan rumahku. Aku masih memperhatikan.

Yeoja itu…

Ya. Aku memang kenal dengannya. Apa yang ia lakukan? Kenapa membawa gitar? Dia bisa bermain gitar?

HYORI POV

Aku terdiam mematung di sebuah pertigaan jalan. Aku bingung hendak bermain dimana. Taman tempat aku biasa bermain gitar sedang dalam proses renovasi. Ku tendang batu-batu kecil di sekitarku.

Yah apa daya. Aku harus mencari taman terdekat disini.

Aku pun kembali melanjutkan perjalananku. Ku sebrangi pertigaan jalan tersebut lalu berjalan di sebuah trotoar.

Mataku tertuju pada sebuah papan penunjuk arah. Disini terdapat sebuah taman. Bagus! Aku bisa bermain disana!

Ku peluk gitarku sambil berjalan. Entah hanya firasatku atau memang benar aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan. Aku pun menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Ahh hanya firasatku saja..

KYUHYUN POV

Jika dilihat-lihat sepertinya dia ingin pergi ke taman. Aku pun segera berbalik lalu mengganti pakaianku. Sepertinya aku akan memata-matainya. Aku sangat penasaran dengan yeoja ini.

Pintu rumah sudah ku kunci rapat-rapat. Aku pun mulai berjalan menuju taman. Taman itu memang tidak begitu jauh jaraknya dari rumah. Taman itu tempat aku bermain sedari kecil. Taman itu memang sudah banyak berubah. Itu membuatku merindukan masa lalu.

Sesampai di taman tersebut aku pun mulai mencari dimana dia berada. Dan dengan cepat aku menemukan yeoja itu sedang memainkan jari-nya diatas senar gitar. Aku pun bersembunyi dibalik semak-semak terdekat dengannya. Di balik semak-semak aku juga mengintip.

Jigeum naega haneun yaegi
Neol apeuge halji molla
Ama nal jukdorok miwohage doel kkeoya

Naega yejeon gatji antadeon ne mal
Modu teullin mareun aniya
Nado byeonhaebeorin naega nat seolgimanhae

Neomu chakhan neonde neon geudaeroinde Oh
I don’t know I don’t know
Naega wae ireoneunji

Geutorok saranghaenneunde neon yeogi inneunde Oh

I don’t know
Ije nal chatgo sipeo

Baby I’m sorry neowa isseodo nan lonely
Saranghagin naega bujokhanga bwa
Ireon motnan nal yongseohae

I’m sorry ige neowa naui story
Sarangiran naegen gwabunhanga bwa
Ne gyeote isseodo

Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

Nega jalmotan ge anya
Naega isanghan geoya
Imi orae jeonbuteo nan junbi haenna bwa ibyeoreul

Jeongmal jalhaejugo sipeonneunde
Hapil sarang apeseoneun wae
Ireoke haneobsi jagajigo oerounji

Neomu chakhan neonde neon geudaeroinde Oh

I don’t know I don’t know
Naega wae ireoneunji

Geutorok saranghaenneunde neon yeogi inneunde Oh

I don’t know
Ije nal chatgo sipeo

Baby I’m sorry neowa isseodo nan lonely
Saranghagin naega bujokhanga bwa
Ireon motnan nal yongseohae

I’m sorry ige neowa naui story
Sarangiran naegen gwabunhanga bwa
Ne gyeote isseodo

Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

Aku terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa. Lagu ini.. Aku sangat suka lagu ini. Mungkin dia juga menyukainya. Lagu ini benar-benar menggambarkan perasaanku.

Dan dia.. menyanyikan lagu ini dengan lembut.

Aku menatap yeoja itu dengan nanar. Dia sedang memetik senar gitarnya.

Dan disaat itu juga aku melihat.. darah mengalir dari hidungnya. Seketika itu juga aku tersentak dan ingin menghampirinya. Tapi aku tidak bisa. Rasanya aku membeku di tempat. Aku cuma bisa memperhatikannya dari balik semak. Ia kelihatannya juga terkejut. Lalu ia mengeluarkan sapu tangan dari tas-nya.

Sapu tangan itu dengan cepat berubah warna menjadi merah darah. Sepertinya sapu tangan itu tidak akan cukup menampung. Ku lepas kemeja biru-ku. Aku masih ragu untuk menghampirinya atau tidak. Tapi.. ini demi kebaikannya juga..

HYORI POV

Aigo.. Kenapa bisa? Ku rasa sapu tangan ini tidak akan cukup menampung semuanya. Ya tuhan tolong aku~

Ku pejamkan mataku sejenak untuk menenangkan pikiranku.

Setelah ku buka kembali mataku ku dapati seorang namja tengah duduk di depanku. Aku terkejut mendapati kehadiran namja ini.

Namja ini kemudian mengambil sapu tanganku lalu memberikan kemejanya padaku.

“Pakailah. Sapu tanganmu tak kan cukup untuk menampung semuanya”

Aku pun mengangguk lalu menempelkan kemeja tersebut di hidungku.

Namja ini masih memperhatikanku. Sorot matanya terlihat iba melihatku.

“Apa kita ke rumah sakit saja?” tanya namja itu kemudian.

Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil. Ku lihat kemeja yang kini tengah ku pegang. Kemeja itu dengan cepat berubah warna menjadi merah darah.

Ku tatap namja di depanku, dia berdiri dan aku pun mengikutinya.

Tiba-tiba saja aku merasa kepalaku terasa begitu berat. Pandanganku semakin buram. Dan keseimbangan badanku hilang. Saat itu lah aku merasa namja itu berteriak.

~~~~~~~~~~~~~~

Mataku mulai terbuka. Kepalaku masih terasa sangat pusing. Aku pun menutup mataku kembali hingga aku merasa benar-benar sudah tidak pusing. Aku yakin sekarang aku sedang berada di rumah sakit. Kenapa aku yakin? Karena aku sudah terbiasa dengan suasana rumah sakit.

Aku pun berusaha untuk duduk dengan memaksakan badanku.

“Kalau kau tidak bisa jangan dipaksakan. Itu sama saja kau menyakiti dirimu sendiri”

Aku tertegun lalu mencari asal suara. Suara itu suara namja yang tadi. Ia sedang duduk di sofa sambil memegang sehelai kertas.

“Tenang saja. Aku baik-baik saja” jawabku tenang.

“Baik-baik saja? Apa kau yakin?” tanya namja itu dengan tatapan nanar.

“Ku rasa begitu. Hmm mianhae, aku lupa—”

“Kyuhyun” jawab Kyuhyun tanpa menunggu Hyori menyelesaikan ucapannya.

“Oh ya. Kyuhyun” Hyori mengangguk.

AUTHOR POV

Kyuhyun menghela nafas dengan berat. Ia memandangi kertas yang sedari tadi ia genggam. Kertas hasil pemeriksaan yeoja yang bernama Hyori. Kyuhyun menelan ludah. Penyakit Hyori semakin parah, kankernya yang semula hanya stadium 1 naik menjadi 2.

Sungguh malang yeoja ini. Batin Kyuhyun sambil kembali menatap Hyori.

“Bolehkah aku pinjam handphone-mu?” tanya Hyori tiba-tiba.

“Untuk apa?” jawab Kyuhyun sambil merogoh saku-nya.

“Hmm aku ingin mengabari appa-ku bahwa aku sedang disini” tutur Hyori.

Kyuhyun mengerti lalu memberikan handphone-nya pada Hyori. Hyori menerima handphone Kyuhyun lalu mulai memasukkan nomor yang sudah ia hafal ke dalam handphone Kyuhyun. Hyori menempelkan handphone Kyuhyun ke telinganya. Mata Hyori lalu tertuju pada Kyuhyun. Seakan mengerti maksud yeoja itu, Kyuhyun pun menjauh dan berjalan menuju jendela.

Kyuhyun pun memandang ke luar jendela. Sayup-sayup ia masih bisa mendengar percakapan antara Hyori melalui telfon.

“Appa.. Sekarang aku sedang berada di rumah sakit. Bisakah kau datang kesini?”

“Hmm appa sendiri pasti tau kan apa yang terjadi jika aku sudah masuk rumah sakit?”

“Jangan panik begitu appa. Aku baik-baik saja. Tadi aku sangat beruntung karena ada temanku yang menolong. Jika dia tidak ada aku tidak tau apa yang akan terjadi”

“Aku yakin aku baik-baik saja. Jangan berlebihan begitu appa”

“Baiklah. Ku tunggu appa sekarang juga”

Percakapan melalui telfon itupun usai. Kyuhyun terdiam. Antara sadar dan tidak sadar.

Apa yang akan terjadi jika aku tidak ada tadi? Batin Kyuhyun kembali berbicara.

Kyuhyun yang sedang sibuk dengan pikirannya tidak sadar bahwa Hyori sedang menatapnya dalam. Entah tatapan kagum atau apa. Hanya saja.. posisi Kyuhyun yang berada di depan jendela, sosoknya yang dingin terkena cahaya matahari menimbulkan sosok yang dingin namun hangat serta misterius. Kombinasi yang benar-benar membuat Hyori suka.

Kyuhyun pun berbalik dan mendapati Hyori sedang memperhatikannya. Kyuhyun menjadi salah tingkah, begitu pun Hyori.

“I.. ini handphonemu. Gamsahamnida~” tutur Hyori sambil memberikan handphone Kyuhyun.

“Gwen.. gwenchana” jawab Kyuhyun dengan gugup. “Tidak usah se-formal itu padaku”

Kyuhyun yang gugup pun malu untuk menatap Hyori, Hyori hanya tersipu malu dengan sikap Kyuhyun.

Tak ku sangka murid bermasalah seperti dia ternyata bisa gugup juga. Batin Hyori dan rona kemerahan pun timbul di pipi-nya.

Kyuhyun yang melihat rona pada wajah Hyori langsung terpesona. Namun, tiba-tiba ia mendengar ketukan pintu dari luar. Kyuhyun pun berjalan menuju pintu dan membukakannya.

“Mana anakku? Apa dia baik-baik saja?!” tanya seorang ahjussi yang kelihatan panik. Kyuhyun pun menunjuk Hyori. Ahjussi itu pun segera beranjak menuju tempat Hyori berada.

“Appa sudah datang” tutur Hyori dengan senyum merekah di bibirnya.

“Nde. Appa datang. Appa tidak mau lagi meninggalkanmu lagi” ujar appa sambil memeluk erat Hyori.

Kyuhyun hanya tersenyum melihat ekspresi Hyori yang bingung saat dipeluk appa-nya. Dan mata mereka pun bertemu. Kyuhyun pun langsung buang muka dan pura-pura tidak melihat.

Hyori menggigit bibir bawahnya menahan tawa karena sikap Kyuhyun.

~~~~~~~~~~~

“Aku sangat berterimakasih padamu karena sudah menolong anak semata wayangku. Namaku Minyeol Kim. Apa yang bisa ku lakukan untukmu?” ujar appa Hyori.

Kini Kyuhyun dan appa Hyori sedang berbincang. Sedangkan Hyori sedang tidur pulas.

“Gwenchanayo ahjussi. Kebetulan dia teman sekelasku, dan aku tidak sengaja bertemu dengannya di taman” tutur Kyuhyun sopan.

“Kau teman sekelas Hyori?” tanya appa Kyuhyun tidak percaya.

“Nde. Ada apa ahjussi?” Kyuhyun jadi salah tingkah.

“Hmm aniya. Aku menduga kalau kalian itu deman baik. Benarkah? Aku ingin kau menjaga Hyori. Kalau begitu mohon bantuannya” ujar appa Hyori sambil membungkukkan badannya.

Kyuhyun semakin salah tingkah. Ia juga merasa tidak enak karena tindakan appa Hyori. “Eh, jangan begitu ahjussi. Nde, aku akan menjaga Hyori. Oh ya ahjussi, ada sesuatu yang ingin aku berikan”

Kyuhyun menarik nafas dalam lalu memberikan secarik kertas. Ya, itu kertas hasil pemeriksaan Hyori. Appa Hyori pun menerima-nya. Setelah beberapa menit membaca, appa Hyori pun menjadi lemas. Kyuhyun sudah menduga akan begini. Kyuhyun hanya menghembus nafas pelan.

Bisa dibayangkan apa yang dirasakan appa Hyori sekarang. Antara sedih, bingung, dan tidak tau harus bagaimana. Kondisi yang sulit.

Appa Hyori menunduk lalu memijit pelipisnya yang terasa nyeri.

“Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan. Aku tidak mau meninggalkan Hyori, tapi dilain sisi aku juga harus bekerja. Aku akan pindah ke Tokyo selama setahun untuk membuka cabang baru perusahaanku. Rencananya aku ingin membawa Hyori, namun melihat kondisi Hyori kini yang semakin lemah aku pikir aku tidak akan bisa pergi ke Tokyo.” tutur ahjussi dengan lesu.

Seandainya aku bisa membantu..

“Bagaimana jika Hyori tinggal denganku selama ahjussi berada di Tokyo? Aku berjanji akan menjaganya dengan baik” pinta Kyuhyun dengan mantap. Entah apa yang difikirkan Kyuhyun. Tapi ia tau ia tidak akan menyesal mengambil keputusan ini.

Appa Hyori terkejut mendengar permintaan anak muda di depannya. Namun appa Hyori melihat wajah tulus dari wajah Kyuhyun.

Sepertinya ia bisa dipercaya

Kyuhyun melihat keraguan dalam diri appa Hyori. Namun, kemudian appa Hyori tersenyum. Senyum yang sulit diartikan apa artinya.

“Baiklah. Aku setuju karena ku pikir kau bisa dipercaya”

Senyum merekah pun muncul dari bibir Kyuhyun. “Jeongmal gamsahamnida ahjussi~ Aku akan pegang janjiku dan tidak akan mengecewakanmu”

“Tapi.. jika penyakitnya kambuh kau harus menghubungiku. Kapanpun!” perintah appa Hyori serius. Kyuhyun mengangguk mengerti lalu menoleh ke arah yeoja yang sedang tertidur pulas. Senyum Kyuhyun semakin mengembang..

-TBC-

Iklan

~ oleh narachikim pada Desember 23, 2011.

Satu Tanggapan to “Thank You (Part 2)”

  1. Kyaaa..Kyu udah kaya Super Hero yaa
    miris amet ceritanya (TT^TT), berdoa aja semoga happy ending..
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: