Destiny (Part 2)


Author: narachikim

Genre: Chapter, Romance, Friendship.

Cast: Kim Hyori, Lee Sungyeol, Kim Myungsoo (L), Jung Myungji

This ff just got a new cast hehehe

TARAAAA!!!

THE NEW CAST IS T-ARA’S JIYEON! \(´▽`)/

• Hyori’s bestfriend

• Lovely person

• Easy-going

• Satu universitas dan jurusan yang sama dengan Hyori

Part : Prolog | Part 1

AUTHOR POV

“Senang bisa berkenalan Myungji-ssi” ujar Sungyeol ramah sembari tersenyum.

Myungji terpana melihat senyuman Sungyeol yang manis itu. Wajah Myungji pun bersemu menjadi merah merona.

“Perkenalkan ini sahabatku Kim Myungsoo” lanjut Sungyeol memperkenalkan Myungsoo kepada Myungji. Myungji pun terkejut karena ia baru menyadari bahwa ia telah melamun.

Myungsoo tersenyum ramah namun tatapan Myungsoo terlihat begitu dingin dan sulit untuk diartikan. Myungji membalas senyuman Myungsoo dengan canggung.

Lalu Myungji berjalan namun sialnya kaki-nya terpeleset karena high heelsnya terlalu tinggi. Myungji akan terjatuh, namun Sungyeol sangat sigap hingga ia menangkap tubuh Myungji dan Eia pun terjatuh dalam pelukan Sungyeol.

Seketika wajah Myungji kembali merona karena malu.

“Paboya! Paboya! Paboya! Jeongmal paboya, Jung Myungji!! Dimana mau kau letakkan wajahmu?!?” maki Myungji dalam hati.

Sungyeol terlihat khawatir “Myungji-ssi gwenchana?”.

Myungji hanya mengangguk dengan canggung lalu melepas pelukannya. Keseimbangan tubuh Myungji masih belum stabil hingga ia hampir terjatuh lagi. Tapi Sungyeol memegang tangan Myungji hingga yeoja di depannya itu tetap berdiri tegak. Sungyeol melihat wajah merah merona Myungji.

“Apakah dia malu?” batin Sungyeol dalam hati.

“Gamsahamnida, Sungyeol-ssi. Jeongmal gamsahamnida~” ujar Myungji sambil membungkukkan badannya. Sungyeol membalas membungkukkan badannya.

Myungji semakin jatuh hati pada Sungyeol.

“Lain kali hati-hati ya Myungji-ssi. Besok pakai saja sneaker. Bagaimanapun gayamu, kau pasti terlihat cantik” tutur Sungyeol sambil tersenyum.

Wajah Myungji semakin merona mendengar kata-kata Sungyeol. Barusan.. Sungyeol bilang dia ‘cantik’?

“Ya Tuhan, terimakasih hari ini begitu indah” batin Myungji dalam hati.

“Kami pulang dulu ya. Sampai jumpa lain kali Myungji-ssi” pamit Sungyeol. Myungji melambaikan tangannya pada Sungyeol.

~~~~~~~~~

Hyori sendirian di kamarnya sedang membaca kamus bahasa Prancis.

“Rumah sepi sekali kalau tak ada Myungsoo” gumam Hyori.

Hyori pun mengecek handphone-nya. Tidak ada satupun pesan dari Myungsoo. Pasti Myungsoo sedang menonton konser. Hyori menandai kamusnya lalu menutup kamusnya.

Ia berjalan menuju jendela lalu membukanya. Angin langsung masuk ke dalam kamar. Di luar salju juga sedang turun. Hyori pun menutup jendela dan kembali duduk diatas tempat tidurnya. Hyori tidak tau harus melakukan apa. Biasanya kalau begini pasti ia akan berkunjung ke kamar Myungsoo.

Namun sayang sekali Myungsoo sedang tidak berada dirumah. Helaan nafas pun terdengar. Hyori mengambil laptop apple-nya lalu menghidupkannya. Setelah hidup, yeoja bermarga Kim tersebut mencari lagu Can U Smile milik Infinite. Lalu diputarnya lagu tersebut. Hyori semakin teringat Myungsoo. Apa dia merindukan sepupunya itu? Sepertinya iya.

Setelah beberapa lama sibuk dengan pikirannya. Hyori pun mematikan laptop apple-nya lalu beranjak meninggalkan kamar. Kaki Hyori berjalan menuju sebuah kamar yang sudah sering ia masuki.

Ya. Kamar Myungsoo.

Hyori pun masuk ke dalam kamar sepupunya tersebut.

“Kamar Myungsoo berantakan sekali” gumam Hyori.

Lalu ia membereskan baju-baju Myungsoo yang berserakan diatas tempat tidurnya. Setelah selesai, Hyori beralih menuju meja belajar Myungsoo. Kertas-kertas  lirik lagu berserakan disana. Hyori pun membereskannya. Setelah selesai kamar Myungsoo terlihat sangat rapi, Hyori tersenyum puas.

Mata Hyori tiba-tiba tertuju pada gitar Myungsoo. Entah apa daya tarik gitar tersebut, namun Hyori mengambil gitar tersebut lalu ia membawanya. Hyori duduk di karpet disamping tempat tidur Myungsoo. Hyori mencoba memainkan jari-nya diatas senar gitar.

Ahh ia tidak bisa. Bunyi yang tidak jelas terdengar begitu buruk.

“Untung saja Myungsoo sedang tidak ada. Kalau tidak pasti dia sudah mengolok-olokku” gumam Hyori sambil mencibir.

Ia tidak berbakat memainkan gitar. “Bakatku kan melukis” ujar Hyori bangga. Kemudian Hyori melihat jam yang terletak di meja di samping tempat tidur.

Sudah jam 22.00~

“Myungsoo! Kenapa kau belum pulang hah?!” gerutu Hyori kesal.

~~~~~~~~~~

“Kau tahu? Kurasa yeoja tadi menyukaimu” terka Myungsoo ketika mereka sedang diperjalanan pulang.

“Aniya~ Darimana kau bisa tau? Kau selalu saja menerka-nerka tanpa tau bukti” balas Sungyeol sambil mencibir.

“Tentu saja aku tau. Kau mana pernah tau soal itu. Kau kan tidak peka! Paboya~ Bisakah kau untuk sedikit peka terhadap perasaan orang lain, Lee Sungyeol?” ujar Myungsoo meledek.

Sungyeol kembali mencibir. Lalu mereka pun tertawa.

“Eh sudah sampai rumahmu. Besok kita pergi lagi! Oke?” ujar Myungsoo.

Sungyeol mengangguk lalu meninju pelan bahu Myungsoo sebagai salam perpisahan.

Sungyeol pun turun dari mobil Mercedes silver milik Myungsoo.

“Saatnya pulang, Myungsoo” gumam Myungsoo pada dirinya sendiri.

~~~~~~~~~


Mobil sudah ku matikan. Aku pun keluar dari mobil. Ku lirik jam tanganku. Sudah jam 22.30~

“Pasti anak itu sudah tidur” batin Myungsoo.

Sesampai di kamarnya, Myungsoo terkejut karena kamarnya sudah tertata begitu rapi.

“Siapa yang membersihkan?” gumam Myungsoo heran. Rasanya jarang sekali ada yang masuk ke dalam kamarnya. Kecuali ‘dia’.

Tiba-tiba mata Myungsoo mendapati sepupu perempuannya tengah tertidur di karpet dan tubuhnya menyandar di tempat tidur. Hyori tertidur sambil memeluk gitar Myungsoo.

Myungsoo tersenyum melihat Hyori yang sedang tertidur.

“Neomu yeppeo” gumam Myungsoo sambil mengelus rambut Hyori dengan lembut.

Namun, Myungsoo teringat sesuatu. Wajah Myungsoo seketika berubah muram. Ia selalu benci ketika ia mengingat bahwa kenyataannya ia adalah sepupu seorang Kim Hyori. “

“Apa salah mencintai sepupumu sendiri? Ya, aku tau itu salah. Sangat salah. Itu beban yang sangat berat untukku” gumam Myungsoo pelan. Myungsoo mengucapkannya dengan suara bergetar.

“Aku tau aku benar-benar cengeng. Aku benci diriku sendiri” gumam Myungsoo lagi.

Myungsoo menatap sepupunya itu dengan lirih. Lalu ia melepas pelukan Hyori dari gitarnya kemudian mengambil gitar tersebut.

“Aku benci ketika aku menyadari bahwa aku tak bisa mencintaimu seperti yang aku mau”

~~~~~~~~~~

HYORI POV

Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa sikap Myungsoo berubah dingin padaku. Apa aku telah melakukan sesuatu yang salah? Ku rasa tidak ada. Lalu? Kenapa dia tiba-tiba berubah?

Aku sangat benci melihat sikap dinginnya. Apalagi ketika dia melihatku dengan tatapan tajamnya yang menusuk dan begitu dingin. Dia terlihat begitu murka. Apa aku harus bertanya? Ah sepertinya jangan. Dia akan lebih terlihat menyeramkan.

Ada baiknya aku diam saja dulu. Pasti dia akan baik sendiri.

~~~~~~~~~

Aku salah!

Sudah seminggu dan dia tetap bersikap dingin padaku. Rekor terlama aku bertengkar dengannya hanya sehari. Dan sekarang? Ini sudah seminggu! Ku pikir ini sudah keterlaluan! Marah tanpa sebab? Memangnya aku salah apa?

Aku merobek gambar sketsaku untuk yang kesekian kalinya dengan kesal karena aku baru sadar aku tidak menggambar dengan baik. Pikirannya begitu kacau untuk melukis sekarang.

“What happen with you, Kim Myungsoo?! Why you change like this huh?!” teriak Hyori lalu melembar buku sketsanya ke dinding kamar.

Drrrtt.. Drrrtt..

Perhatianku kini tertuju pada handphoneku. Ada pesan sepertinya.

From: Jiyeon

Hyori-ah~ Ku rasa kau sedang ada masalah. Mau bercerita padaku? Ku tunggu kau di starbucks biasa. Arra? ^^

Aku tertegun lalu tersenyum. Beruntung sekali aku memiliki sahabat seperti Jiyeon. Dia selalu tau ketika aku sedang ada masalah. Dia selalu ada untukku. Jiyeon is a good friend!

Aku pun mulai mengetik balasan untuk Jiyeon.

To: Jiyeon

Arra! ^^ Aku akan kesana secepatnya! Kau benar-benar pintar, Jiyeon-ah! Kkkk

Setelah membalas pesan dari Jiyeon, aku langsung beranjak mengganti pakaianku lalu pergi menuju kafe starbucks tempat biasa aku dan Jiyeon berkunjung.

~~~~~~~~~~

“Menurutmu bagaimana? Memangnya aku salah apa? Tiba-tiba saja dia berubah dingin padaku. Aneh, bukan?” tanyaku lalu meminum coffe latte milikku.

Kening Jiyeon berkerut setelah mendengar ceritaku. Mungkin baru kali ini ia mendengarku dan Myungsoo berada dalam keadaan seperti ini.

Marah tanpa alasan? Bukankah itu terdengar egois?

“Terakhir kali kapan kau berbincang dengannya? Kau yakin kau tidak ada mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaannya?” tanya Jiyeon serius. Aku anggukkan kepalaku dengan mantap.

“Aniya! Terakhir aku berbincang dengannya saat ia mengantarku ke kampus! Dan ku rasa aku tidak ada mengucapkan kata-kata yang yang menyinggung perasaannya” jawabku kesal.

“Ku rasa ada baiknya jika kau menanyakan langsung pada Myungsoo. Tentu saja kau tidak mau keadaan seperti ini berlanjut terus-menerus kan?” saran Jiyeon dengan bijak.

Aku hanya mengangguk dengan lesu. Apa aku berani untuk menanyakannya? Baru bertemu dengannya saja aku sudah mendapatkan tatapan tajam seperti itu. Ah.. sepertinya saran Jiyeon ada benarnya juga.

Arraseo~ Akan ku tanya namja itu sesampai di rumah nanti!

~~~~~~~~~

SUNGYEOL POV

Ada yang aneh dengan namja di depanku ini. Ia terlihat begitu bingung, bimbang, dan tak tau arah. Apa dia sedang ada masalah? Baru kali ini aku melihatnya seperti ini.

Myungsoo kelihatan menyedihkan. Raut wajahnya sangat menampakkan suasana hatinya. Ada apa dengan anak ini?

“Eottheokhae?” gumam Myungsoo pelan. Suaranya terdengar sangat lesu. Kelihatannya ia memang sedang ada masalah.

“Mworago?” tanyaku kemudian. Aku benar-benar penasaran dengan Myungsoo.

“Haruskah aku bercerita pada orang yang tidak peka sepertimu, Sungyeolㅡ” Myungsoo langsung terdiam dan ia kelihatan semakin bingung.

“Ah.. mianhae.. Suasana hatiku sedang buruk sekali” jawab Myungsoo kemudian. Ia menatapku dengan lesu.

“Gwenchana. Kalaupun kau tidak mau bercerita padaku juga tidak apa-apa. Tapi aku tau kau sedang ada masalah” ujarku tenang. Lalu aku mengambil sebatang coklat dari saku sweaterku lalu ku ulurkan kepada Myungsoo. Anak itu menatapku dengan heran.

“Ambillah~ Coklat dan es krim bisa membuat perasaanmu lebih baik. Namun, aku hanya punya coklat. Lain kali saja aku belikan kau es krim kkkkk” ujarku dengan ceria.

Kemudian sebuah senyuman pun muncul dari wajah Myungsoo. Walaupun aku tau itu senyuman yang dipaksakan. Mungkin berat bagi Myungsoo untuk memberikan sebuah senyuman di saat ia sedang terpuruk. Tentu saja.

Aku tau aku bukan orang yang peka terhadap perasaan orang lain. Tapi aku selalu mencoba untuk mengerti. Aku benci disaat aku tak bisa mengartikan suatu perasaan yang orang lain berikan padaku. Ah.. paboya.

MYUNGSOO POV

Apa aku salah mengambil tindakan seperti ini?

Kenapa aku merasa aku begitu jahat? Apa aku egois? Mungkin iya.

Apa dia memikirkan mengapa aku berubah dingin padanya? Kurasa iya.

“Eottheokhae?”

“Mworago?” tanya Sungyeol kemudian.

Mwo? Apa aku menyuarakan pikiranku sendiri? Aish~ Paboya Kim Myungsoo!

“Haruskah aku bercerita pada orang yang tidak peka sepertimu, Sungyeolㅡ” geezz sepertinya aku salah bicara!

“Ah.. mianhae.. Suasana hatiku sedang buruk sekali” lanjutku kemudian. Semoga saja Sungyeol tidak tersinggung dengan kata-kata tadi.

Ku lihat Sungyeol memalingkan wajahnya lalu tersenyum seperti biasa.

“Gwenchana. Kalaupun kau tidak mau bercerita padaku juga tidak apa-apa. Tapi aku tau kau sedang ada masalah” balas Sungyeol sembari mengambil sesuatu dari saku sweaternya.

Ia mengulurkan sesuatu kepadaku. Aku hanya menatapnya dengan heran.

“Ambillah~ Coklat dan es krim bisa membuat perasaanmu lebih baik. Namun, aku hanya punya coklat. Lain kali saja aku belikan kau es krim kkkkk” ujarnya lalu terkikik sendiri. Lee Sungyeol, aku tidak tau harus bicara apa lagi.

Ku sunggingkan sebuah senyuman sebagai ucapan terimakasih. Namun, kurasa aku tak dapat tersenyum dengan baik, atau lebih tepatnya aku tersenyum dengan dipaksakan.

Mungkin kelihatannya Sungyeol tidak mengerti apa-apa, tapi aku tau dia pasti sadar akan senyumku yang dipaksakan ini. Aku harap dia mengerti. Begitu berat untukku tersenyum saat ini..

Ku pandangi coklat pemberian Sungyeol.

Aku lupa terakhir kali aku makan. Kemarin? Kurasa iya.

Rasa lapar sama sekali tidak terasa olehku. Mungkin karena aku sibuk memikirkan ‘dia’.

Kenapa aku juga menyakiti diriku sendiri? Ya Tuhan.. aku benar-benar sudah di luar kendali. Semua ini harus ku akhiri. Aku akan jujur padanya. Aku akan mnengungkapkan perasaanku padanya. Aku tidak peduli apakah dia akan membenciku, menjauhiku, atau lebih buruk lagi.. dia tidak mau mengenalku lagi.

~~~~~~~~~~

AUTHOR POV

“Ah.. garagara tugas yang menumpuk ini aku harus pulang malam. Kasian sekali aku” ujar Hyori pada dirinya sendiri. Hyori masih teringat tadi siang saat ia bersama Jiyeon dan ia harus pergi ke kampus karena banyak sekali tugas yang harus dikerjakan.

Hyori baru saja keluar dari gedung kampusnya. Hyori melirik jam tangannya. Sudah jam 09.30.

“Aigoo ini sudah sangat malam!!” teriak Hyori cemas. Lalu dia membereskan buku-buku yg dibawanya. Hyori berjalan dengan cepat karena ia takut ketinggalan kereta akhir.

Di sebuah gang kecil dan gelap Hyori berjalan sendirian. Hyori merasa ada yg mengikutinya. Hyori takut dan semakin mempercepat laju jalannya. Lalu ia menoleh ke belakang dan ia mendapati seorang namja memakai hoodie berwarna hitam.

Namja itu kelihatannya bukan orang baik. Lalu Hyori berteriak, “Hey kenapa mengikutiku?”

Namja itu mendekat lalu mendorong Hyori ke tembok. Buku-buku yang dipegang Hyori pun jatuh ke jalanan. Hyori pun berusaha lari namun tangannya di cekal oleh namja itu.

Namja itu menarik Hyori ke pelukannya lalu memeluk Hyori. Hyori meronta-ronta, “Lepaskan aku!!! Toloooong!!!!!” teriak Hyori ketakutan.

“Disini tidak ada orang, chagiya. Bersenang-senanglah denganku malam ini” bisik namja itu di telinga Hyori.

Hyori semakin meronta tapi badan namja itu kuat. Namja itu semakin memeluk Hyori. Hyori pun menangis. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa begitu lemah saat ini.

“Ya! Apa yg kau lakukan pada yeoja itu?!” bentak seorang yeoja terdengar begitu murka.

Hyori dan namja itu langsung menoleh pada yeoja itu. Namja itu melihat yeoja itu dengan tatapan meremehkan. Lalu ia melepaskan Hyori dan mendorong Hyori ke belakang dan berjalan mendekati yeoja yang tidak dikenal tersebut.

“Nuguya?! Apa urusanmu hah?!” maki namja itu dengan kasar.

Yeoja itu terlihat semakin marah. Ia mengambil sebuah kayu yang tidak jauh darinya lalu memukul pundak namja itu sekuat-kuatnya. Namja itu langsung lumpuh dalam sekali pukulan. Kekuatannya hilang dan ia langsung tersungkur di tanah.

“Rasakan itu, sialan!!” maki yeoja itu lalu membuang kayu yang dipegangnya tadi.

Hyori yang terduduk di pinggir jalanan hanya diam. Badannya menggigil, wajahnya pucat pasi. Kondisinya dapat membuat iba orang-orang yang melihatnya.

Yeoja itu lalu berjalan mendekati Hyori.

“Hey.. Gwenchana?” tanya yeoja itu hati-hati.

Hyori mengangkat wajahnya lalu menatap yeoja itu tanpa ekspresi.

“Nuguseyo?” tanya Hyori pelan. Entah mengahap Hyori merasa suara hilang. Ia begitu takut saat ini.

“Tenang saja~ Aku tidak jahat seperti orang sialan tadi. Namaku Jung Myungji. Ku rasa kau sangat ketakutan saat ini. Mau aku antarkan pulang?” tawar yeoja yang bernama Jung Myungji pada Hyori.

Hyori hanya menganggukkan kepalanya.

~~~~~~~~~~~

Myungsoo berjalan tak jelas arah sedari tadi.

“Sudah larut malam seperti ini kenapa dia belum pulang juga?” batin Myungsoo.

Perasaan Myungsoo benar-benar buruk saat ini. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Hyori. Sesuatu hal yang buruk. Karena Myungsoo tau, tidak mungkin seorang Kim Hyori belum pulang larut malam.

Myungsoo menatap langit-langit ruangan dengan gelisah.

“Ya Tuhan.. Lindungilah ia apapun yang terjadi” doa Myungsoo.

Kali ini Myungsoo melihat jam dinding untuk yang kesekian kalinya. Hampir tengah malam.

Apakah ia harus melakukan sesuatu daripada hanya berjalan tak tentu arah disini?

Lalu Myungsoo langsung menyambar kunci mobilnya dan hendak beranjak meninggalkan rumah. Saat ia membuka pintu rumah, disitulah ia melihat 2 orang yeoja sedang berdiri di depan pintu.

“Hyo…ri?” gumam Myungsoo terbata melihat kondisi Hyori. Lalu mata Myungsoo beralih pada yeoja yang sedang memapah Hyori. Myungsoo mengenal yeoja ini. Ya, yeoja ini adalah yeoja yang menabrak Sungyeol di konser jazz seminggu yang lalu. Kalau tidak salah namanya Myungji.

“Apa yang terjadi?!” tanyaku khawatir

“Jangan tanyakan itu dulu! Kita harus membawa yeoja malang ini untuk beristirahat. Ia mendapat pengalaman yang begitu buruk” ujar yeoja itu kesal.

Myungji memberikan Hyori kepada Myungsoo. Kini Myungsoo tengah menggendong Hyori dan ia langsung berjalan menuju kamar Hyori diikuri oleh Myungji.

Myungsoo membaringkan Hyori di tempat tidurnya. Setelah itu ia menatap Myungji dengan tatapan agar Myungji menceritakan apa saja yang terjadi pada Hyori.

“Yeoja itu hampir saja diperkosa oleh seseorang di sebuah gang saat yeoja itu hendak pulang” ujar Myungji kemudian.

Mata Myungsoo seketika membesar. “MWORAGO??!???”

-TBC-

Iklan

~ oleh narachikim pada Januari 27, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: